Sejarah Muslim Rohingya dan Setengah Abad Lebih Penindasan

278
0
BERBAGI
Rohingya-by-Alwi-Alatas

 

Abad ke-8 Rohingya adalah etnis muslim di Myanmar yang sudah berabad-abad tinggal menetap di negara bagian Arakan (Arakan State of Myanmar). Rohingya merupakan penduduk Asli Arakan yang sudah ada bersamaan dengan perkembangan Islam yang disyiarkan oleh Pedagang Arab pada abab ke-8 Masehi. Pada masa itu, anak Ali bin Abi Thalib, r.a yaitu Muhammad Abu Abdullah bin Ali atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Al Hanafiah dikabarkan pernah datang ke Arakan. Cerita mengenai kedatangan Muhammad Al Hanafiah tersebut dinarasikan dalam buku yang ditulis pada abad ke-16 oleh Shah Barid Khan. Di Arakan, Muhammad Al Hanafiah menikahi Ratu Kaiyapuri. Keduanya kemudian tinggal di daerah kisaran Mayu (Mayu Range) yaitu wilayah sekitar sungai Naf yang berbatasan dengan distrik Chittagong, Bangladesh.

Tahun 1430 Muhammad Al Hanafiah dan Kaiyapuri beserta para pasukan dan pengikutnya kemudian hidup bersama secara damai dan menjadi cikal bakal masyarakat muslim Rohingya di Arakan. Jumlah Rohingya mengalami perkembangan yang sangat pesat di Arakan pada masa Kekuasaan Dinasti Mrauk-U (1430-1784). Pasa masa ini, terjadi fenomena bersejarah dimana banyak penduduk Arakan yang beragama hindu dan buddha beralih menjadi seorang muslim. Jumlah muslim di Arakan semakin meningkat pesat pada masa penjajahan Inggris, dimana pada masa itu terjadi migrasi besar-besaran orang Bengali Chittagong ke Arakan. Mereka menyatu dan menjadi bagian masyarakat muslim Rohingya di Arakan;

Tahun 1948 Sementara itu, nama “Arakan” menurut Ulama Rohingya diambil dari kata atau أركان “ atau “al-rukun” yang jamaknya “arkan” dalam Islam, yang berarti pilar, prinsip, sendi, atau asas. Pada masa kekuasaan pemerintahan Myanmar (1948-sekarang), nama Arakan telah diganti menjadi Rakhine State. Tidak hanya mengganti nama Arakan, ibukota Arakan yang dahulu bernama Akyab juga diganti menjadi Sittwe. Digantinya nama Arakan dan Akyab diduga karena nama-nama tersebut terlalu melekat dengan sejarah Islam sehingga tidak cocok untuk Myanmar, yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Sejak kemerdekaan tahun 1948 Rohingnya diterima di negeri ini, mereka mempunyai hak suara juga seperti halnya warga negara yang lain.

Tahun 1962 Setelah kudeta militer tahun 1962 mereka mulai merubah perlakuannya kepada Rohingya secara bertahap.

Tahun 1982 Pada tahun 1982 mereka memperkenalkan hukum kewarganegaraan yang menargetkan Rohingya terhadap kewarganegaraannya.  Pemerintah dan pihak berwenang selalu mengatakan Rohingya bukanlah berasal dari negeri ini: “Mereka bukan warga negara kita, mereka imigran dari Baladesh.” Dimana kita ketahui bahwa Rohingya bukanlah dari Bangladesh, dan tidak pernah bermigrasi dari Bangladesh sejak kapanpun.  Mereka telah menjadi bagian dari Myanmar telah berabad-abad lamanya, bahkan sebelum dijajah oleh Inggris.  Jadi salah jika ada yang mengatakan mereka adalah Bengali. Mereka tidak mempunyai hak kewarganegaraan lainnya seperti, suara dalam pemilihan, menikah, bisnis dan pekerjaan, serta pendidikan yang layak.

Tahun 2012 Pada tahun 2012, Gerakan 969 di bawah pimpinan biksu Wirathu mempropagandakan kebencian terhadap Rohingya baik melalui khutbah-khutbahnya maupun melalui selebaran-selebaran. Propaganda anti Rohingya dan anti muslim dibocengkan dengan kasus pemerkosaan terhadap seorang wanita Rakhine berusia 28 tahun bernama Thida Htwe di desa Kyaw Ne Mau pada tanggal 28 Mei 2012. Mereka memprovokasikan kepada penduduk Rakhine bahwasanya pemerkosaan tersebut dilakukan oleh 3 orang laki-laki Rohingya. Akibatnya, pada tanggal 3 Juni 2012 ratusan Penduduk Rakhine yang telah terprovokasi menghadang sebuah bus yang berisi 10 orang Muslim di area checkpoint, Toungop, Arakan. Ratusan Penduduk Rakhine memaksa turun 10 orang Muslim tersebut dan kemudian memukulinya hingga mati. Sementara polisi dan tentara Myanmar yang melihat dan menyaksikan tragedi tersebut membiarkan dan tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan kebiadaban penduduk Rakhine.

Tragedi penindasan dan pembantaian kemudian meluas ke area tempat tinggal Rohingya di kota Maungdaw hingga ke kota Sittwe. Penduduk Rakhine membakar rumah dan masjid, mengambil properti, dan membunuh orang-orang Rohingya. Tidak hanya membunuh orang-orang dewasa, mereka juga membunuh anak-anak dan perempuan Rohingya dengan cara yang keji. Bahkan perempuan-perempuan Rohingya yang dibunuh, terlebih dahulu mengalami pemerkosaan. Rohingya akhirnya terusir dan kemudian menyelamatkan diri ke negara terdekat.

Tahun 2016 Kekuatan militer mulai gencar dikerahkan oleh pemerintah Myanmar terhadap Rohingya sejak 9 Oktober dan menuai beberapa teror.

“Di Myanmar Muslim sering dianggap sebagai nasionalisme padahal Muslim itu penganut agama, bukan bangsa tertentu. Orang-orang Budha di Myanmar menilai Muslim sebagai ancaman bagi keamanan nasional dan ancaman bagi agama Budha,” katanya dilansir CNN, Jumat, (18/11).

Lebih lanjut : Ghetto untuk Rohingya

Tahun 2017 Kekerasan makin menjadi dan berlanjut terhadap Rohingya.  Darurat militer telah menawarkan kewenangan diskresioner yang luas kepada Polisi Myanmar dan Polisi Perbatasan Tatmadaw dan Penjaga Perbatasan. Antara fajar dan senja, gerakan atau pertemuan Rohingya pun bisa dihukum dengan penyiksaan, pemerkosaan, atau kematian. Pada saat bersamaan, rumah-rumah telah dijarah dan dibakar sampai ke tanah.

Laporan OHCHR yang mengganggu menceritakan tentang kekejaman yang terjadi pada orang-orang Rohingya.
“Saya berada di rumah bersama paman berusia 13 tahun saya, saat tentara masuk ke rumah tersebut,” seorang anak laki-laki menceritakannya. “Mereka memukuli kami dengan tongkat, batang logam dan tendangan. Kami menangis, memohon belas kasihan … Kami diseret keluar rumah, yang terbakar. Paman saya, yang berusaha melarikan diri tertangkap, dipukuli dan dilempar ke rumah yang terbakar.”

“Mereka telah menderita selama bertahun-tahun. Mereka telah disiksa, terbunuh hanya karena mereka ingin menjalani budaya dan kepercayaan Muslim mereka, “kata Paus Fransiskus setelah laporan tersebut. Dia berdoa untuk para pengungsi Rohingya pada audiensi umum pada hari Rabu.

Lebih lanjut : Muslim Rohingya: Minoritas Paling Teraniaya di Dunia

Jika tentara Burma melihat seorang Muslim di desa ia adalah orang asing; jika dia memancing di sungai ia adalah seorang penyelundup; dan jika dia bekerja di hutan ia adalah seorang pemberontak.Rohingya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here