Muslim Rohingya: Minoritas Paling Teraniaya di Dunia

Antara Nasionalisme, Agama, dan Kemanusiaan

4838
0
BERBAGI

“Pada hari tentara menyerang desa saya, ayah saya dan saya baru saja keluar dari tempat sholat, ketika kami mendengar suara tembakan … Sementara penembakan masih berlangsung, ayah saya berdiri, saat sebuah granat datang dan meledak dekat dengan kami, membunuh ayah saya,” kata seorang pria dari negara Rakhine dalam sebuah laporan baru yang dilakukan oleh Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR). Dia adalah satu dari hampir 70.000 Muslim Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar sejak Oktober.

A Rohingya man cries as he prays during a protest condemning Myanmar’s government violence on his people. Fazry Ismail / EPA

Rohingya sering disebut minoritas paling teraniaya di dunia, tidak dapat mengklaim kewarganegaraan di negara yang menolak untuk mengenali mereka sebagai warga negara.

Tidak hanya pemerintah yang tidak mengakui mereka, namun seluruh warga negara menolak mereka untuk mengakui kewarganegaraan mereka sebagai bagian dari mereka.

Dipukuli, diperkosa, disiksa, diusir, dan dibunuh, Rohingya telah menjadi korban kengerian sebuah genosida yang tidak ditonton dunia. Setelah genosida Rwanda pada tahun 1994, dunia mengatakan “tidak pernah lagi.” Namun tingkat keparahan serangan sistematis – yang dilakukan oleh tentara Myanmar – disebut pembersihan etnis atau lebih tepatnya sebuah pembersihan agama.

#ANTARA NASIONALISME, AGAMA DAN KEMANUSIAAN

Apa yang terjadi bukanlah semata-mata karena ada perlawanan dari Rohingya baru-baru ini.  Namun, yang perlu kita sadari bahwa perlawanan itu ada karena kondisi mereka yang selalu teraniaya.  Hal itu sangat manusiawi. Istilah ‘jihad’ mungkin akan terdengar, juga istilah ‘teroris’ akan disematkan kepada mereka.  Namun cukuplah menjadi manusia untuk bisa menilai hal yang sebenarnya.

Bukan karena kita di Indonesia maka kita tidak dinilai nasionalis ketika kita membela warga dunia yang membutuhkan bantuan, yang sedang terjajah di negeri asing.  Bukankah dalam isi UUD 1945 Republik Indonesia, disebutkan:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.UUD 1945

Dengan demikian kemerdekaan dan segala bentuk penjajahan harus dihapuskan, namun bukan hanya di dalam Negara Indonesia tapi di seluruh dunia – dimanapun letak negaranya.

Seluruh agama pada hakekatnya mengajarkan kebaikan.  Namun jika suatu agama mulai mengajarkan untuk berbuat jahat.  Serta kejahatan tersebut tidak disadari oleh pengikutnya.  Maka agama tersebut harus dipertanyakan keberadaannya.

Cukup menjadi manusia dengan hati nurani untuk bisa menilai apa sebenarnya arti kemanusiaan, apa pun agama yang dianutnya apa pun bangsanya.

#MENGKERUCUT KE SEBUAH TITIK

Banyak korban mengatakan kepada OHCHR bahwa, selama bertahun-tahun, tentara akan mengejek mereka, mendelegitimasi Islam secara keseluruhan.

“Panggil Allahmu untuk datang dan menyelamatkanmu,” kata mereka. “Apa yang bisa kamu lakukan untukmu?”

Tahun-tahun diskriminasi dan intoleransi menyebabkan wabah kekerasan pada tahun 2012, ketika 140.000 orang Rohingya dipaksa masuk ke kamp-kamp pengungsi oleh kelompok ekstremis dan ultra-nasionalis.

Situasi meningkat pada bulan Oktober yang lalu ketika sembilan petugas polisi tewas di pos perbatasan di sepanjang perbatasan dengan Bangladesh. Tidak jelas siapa yang melakukan serangan tersebut namun sebagian besar teori mengidentifikasi para penyerang sebagai “teroris Islam.” Pemerintah menanggapi dengan operasi kontra militer yang ketat.

Sejak saat itu, ratusan warga sipil terbunuh oleh militer.
“Adalah satu hal untuk mengumpulkan tersangka, menginterogasi mereka dan mengajukannya ke pengadilan,” tulis pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dan pemimpin dunia dalam surat mereka kepada Dewan Keamanan PBB. “Ini adalah hal lain untuk melepaskan helikopter tempur pada ribuan warga sipil biasa dan untuk memperkosa perempuan dan melempar bayi ke dalam api.”

Embed from Getty Images

Darurat militer telah menawarkan kewenangan diskresioner yang luas kepada Polisi Myanmar dan Polisi Perbatasan Tatmadaw dan Penjaga Perbatasan. Antara fajar dan senja, gerakan atau pertemuan Rohingya pun bisa dihukum dengan penyiksaan, pemerkosaan, atau kematian. Pada saat bersamaan, rumah-rumah telah dijarah dan dibakar sampai ke tanah.

Laporan OHCHR yang mengganggu menceritakan tentang kekejaman yang terjadi pada orang-orang Rohingya.
“Saya berada di rumah bersama paman berusia 13 tahun saya, saat tentara masuk ke rumah tersebut,” seorang anak laki-laki menceritakannya. “Mereka memukuli kami dengan tongkat, batang logam dan tendangan. Kami menangis, memohon belas kasihan … Kami diseret keluar rumah, yang terbakar. Paman saya, yang berusaha melarikan diri tertangkap, dipukuli dan dilempar ke rumah yang terbakar.”

Dari wanita yang diwawancarai, 43 persen di antaranya dilaporkan diperkosa, bahkan mereka yang berusia 13 tahun. Dalam beberapa situasi, tentara memaksa korban untuk menyaksikan anggota keluarga mereka menderita.

Seorang warga berusia 22 tahun Myaw Taung mengatakan kepada OHCHR bahwa “setelah memasuki rumah kami, tentara memperkosa kedua saudara perempuan saya, 14 dan 17 tahun, di depan mata orang tua saya yang sudah tua. Mereka diperkosa secara kolektif oleh setidaknya delapan tentara. Mereka telah mengalahkan orang tua saya sebelum memperkosa saudara perempuan saya. ”

#MENGAMBIL LANGKAH

“Mereka telah menderita selama bertahun-tahun. Mereka telah disiksa, terbunuh hanya karena mereka ingin menjalani budaya dan kepercayaan Muslim mereka, “kata Paus Fransiskus setelah laporan tersebut. Dia berdoa untuk para pengungsi Rohingya pada audiensi umum pada hari Rabu.

Laporan tersebut telah mengirimkan gelombang kejutan di antara para pemimpin dan aktivis di seluruh dunia.

Pearson mengatakan kepada News AU “Australia harus mengangkat ini secara terbuka dan pribadi dengan pemerintah Burma dan mendesak penyelidikan internasional yang dipimpin oleh PBB atas pelanggaran-pelanggaran ini.”

Melalui semua ini, Peraih Nobel Perdamaian dan Pemimpin Liga Nasional untuk Demokrasi Aung San Suu Kyi tetap sangat tenang.
Suu Kyi mengambil peran – mirip dengan Perdana Menteri – tahun lalu setelah pemilihan bebas pertama negara itu dalam satu generasi. Dia berdiri di atas panggung rekonsiliasi, memperjuangkan demokrasi.

Periset di Queen Mary University London mengatakan kepada The Independent bahwa keheningannya berarti “melegitimasi genosida” dan memperkuat “penganiayaan minoritas Rohingya”.  Suu Kyi, bagaimanapun, telah terhambat oleh sebuah konstitusi era junta yang memegang jabatan menteri kunci untuk tentara. Dengan kontrol seperempat dari parlemen, dipastikan bahwa tidak ada amandemen yang dapat disahkan tanpa persetujuan tentara.

“Sayangnya Suu Kyi mengikuti naluri politik dan naluri kemanusiaannya dan karena Rohingya sangat tidak populer di Myanmar …” Pearson berkata, “dia belum pergi ke Negara Bagian Rakhine untuk berbicara dengan masyarakat yang dapat membantu mencoba dan mengatasi ketegangan.”

 


#PERNYATAAN SIKAP KOMITE ADVOKASI MUSLIM ROHINGYA ARAKAN (KAM_RA)


#PERNYATAAN SIKAP PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH TERKAIT GENOSIDA ETNIS ROHINGYA TERKINI DI MYANMAR


TOPSHOT – This August 30, 2017 photo shows Rohingya refugees reaching for food aid at Kutupalong refugee camp in Ukhiya near the Bangladesh-Myanmar border.
The International Organization for Migration said August 30 that at least 18,500 Rohingya had crossed into Bangladesh since fighting erupted in Myanmar’s neighbouring Rakhine state six days earlier.
/ AFP PHOTO / STR (Photo credit should read STR/AFP/Getty Images)

#OMONG KOSONG NOBEL PERDAMAIAN ITU

Pak @jokowi yth,
Ada genosida di Rakhine,
Apakah bapak belum dengar?
Apakah bapak belum lihat?

Kami telah menyaksikannya berkali-kali dan menangis berkali-kali… doa bangsa dalam Idul Adha kemarin dipenuhi rintihan

Jutaan bangsa kita dan di belahan dunia lain terpukul dan terhempas rasa hina..karena tak bisa berbuat apa-apa…

Genosida kepada Rohingya terlalu kasat mata, biadab dan tak bisa ditulis kata2. Dunia terdiam dan tidak menyangka.

Bicaralah bapak Presiden,
Berwibawa lah bapak Presiden,
Karena bapak adalah pemimpin bangsa beradab! Bangsa merdeka!

Orang tidak bisa disalahkan karena menyembah Tuhan yang berbeda… karena Pancasila berketuhanan yang maha esa.

Orang tidak bisa diusir dan dibantai karena berbeda suku dan warna kulit karena Pancasila kemanusiaan yang adil dan beradab..

Tegakkan Pancasila bapak Presiden,
Kemanusiaan adalah jiwa universal ideologi negara kita!
Karena itu penjajahan harus dihapuskan!

Bersikaplah bapak Presiden,
Tunjukkan kepada dunia bahwa kita bangsa besar agar kami memiliki kebanggaan!

Bapak Presiden @jokowi yang terhormat,
Sampai hati ini sudah 30.000 Muslim Rohingya terusir ke hutan dan sungai…

Sebagian telah menemukan ajal karena dibantai atau karena sakit tak terobati, perburuan, kelaparan dan sakit terus mendera…

Bapak tidak perlu menunggu berita baru karena ini telah sangat nyata. Dunia telah berteriak kencang.. Dengarlah!

Panggillah duta besar Myanmar dan minta penjelasan, jangan percaya propaganda sepihak mereka… ungkap fakta.

Panggil duta besar kita pulang dan minta penjelasan intelijen negara… dan minta pertanggungjawaban mereka…

Jika mereka menolak bertanggungjawab dan tidak jujur dengan situasi yang ada maka apa boleh buat pertemanan kita hentikan sementara..

Kita telah membantu Myanmar secara aktif sejak Presiden @SBYudhoyono karena kita ingin mereka berubah seperti kita..

Tapi tidak seperti militer kita, militer Myanmar haus kuasa, mereka mengacau dan tidak terkendali…

Tapi itu urusan pemimpin sipil yang katanya hebat berkelas dunia seperti aung San Su kyi itu. Ternyata tak berdaya.

Urusan kita adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, dan tentang orang-orang yang terusir karena menyembah Tuhannya.

Itu saja,
Kita telah tunjukkan kebaikan sebagai tetangga menarik mereka ke ASEAN segala. Tapi mereka tak tau adab kita..

Ya sudah,
Tinggalkan mereka agar mereka sadar bahwa dunia mengucilkan mereka karena sikap yang menghina manusia.

Bapak Presiden,
Bapak pemimpin negara demokrasi terbesar nomor tiga di dunia…

Bicaralah kepada dunia yang bebas bahwa ada sekelompok manusia yang sedang mengalami genosida di abad 21 yang megah..

Bicaralah kepada PBB dan ambil tindakan nyata, jangan biarkan ada darah menetes dan airmata kembali tumpah.

Bapak Presiden,
Bapak adalah pemimpin negara Muslim terbesar. Ambillah kepemimpinan, bicaralah kepada OKI… solidkankah.

Sikap Indonesia sedang ditunggu oleh dunia Islam. Dirunggu karena kita adalah abang besar. Kita adalah negara muslim yg stabil.

Kepemimpinan Indonesia akan menentukan masa depan Indonesia juga . Kita sudah terlalu lama diam! Ini saat bertindak!

Bapak @jokowi yth,
Surat ini saya tulis kepada bapak, karena bapak pemimpin yang sah. Mendapat mandat rakyat dan bangsa.

Tidak ada orang sekuat bapak di Negeri ini. Maka bapak lah yang pantas dititipi nasib rakyat Rohingya.

Bisakah Ummat Islam dan kemanusiaan berharap kepada bapak?

Bismillah Pak,
Pada diri Rakyat Rohingya ada masa depan Ummat manusia..

Twitter @Fahrihamzah
8:11-9:56 2/9/2017


#PERNYATAAN SIKAP DPP PKS TENTANG PEMBERSIHAN ETNIS ROHINGYA DI RAKHINE, MYANMAR

Perkembangan yang terjadi beberapa waktu belakangan menunjukkan kekerasan yang terjadi tidak berkurang malah mengarah kepada pembersihan etnis (ethnic cleansing). Hal tersebut terkonfirmasi dari beberapa sumber institusi dan media Internasional.

Sebagai wujud kewajiban Konstitusional bagi seluruh bangsa Indonesia untuk turut serta mewujudkan perdamaian dunia maka dengan ini Partai Keadilan Sejahtera menyatakan sikap dan rencana aksi sebagai berikut:

  1. PKS mengutuk sekeras-kerasnya pembersihan suku (ethnic cleansing) terhadap etnis Rohingya di Rakhine State oleh militer Myanmar.
  2. Mengapresiasi masyarakat yang sudah berinisiatif memberikan berbagai bentuk pembelaan dan bantuan langsung maupun tidak langsung serta mengajak untuk terus aktif memberikan dukungan terbaik untuk etnis Rohingya.
  3. Mendesak Presiden Republik Indonesia sebagai Kepala Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan negara ASEAN terbesar, untuk bertindak lebih nyata dalam upaya menghentikan pembersihan etnis melalui jalur bilateral dan multilateral melalui ASEAN, OKI, dan PBB dengan agenda utama menyelamatkan warga sipil yang tidak bersenjata dan memulihkan kewarganegaraan etnis Rohingya sebagai bagian integral dari Negara Myanmar yang lebih demokratis.
  4. Menginstruksikan Fraksi PKS Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia untuk memperluas kerjasama dengan seluruh fraksi dan alat kelengkapan dewan untuk memperkuat langkah-langkah Indonesia dalam upaya melindungi dan mencegah etnik Rohingya dari bahaya ethnic cleansing dan genocide.

Untuk memastikan langkah-langkah tersebut dapat berjalan secara efektif dan berkesinambungan maka DPP PKS membentuk Crisis Center khusus untuk masalah Rohingya.

Semoga Allah Swt meridhai upaya kita semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamuʼalaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Jakarta, 3 September 2017

DEWAN PENGURUS PUSAT PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

PRESIDEN,

H. MOHAMAD SOHIBUL IMAN, Ph.D.

SEKRETARIS JENDERAL,

H. MUSTAFA KAMAL, S.S.

 


#SIKAP INDONESIA


New satellite imagery obtained by Human Rights Watch shows the complete destruction of the village of Chein Khar Li Satellite imagery © DigitalGlobe 2017
Pada dasarnya kemanusiaan itu bukanlah tentang memberikan bantuan kepada pengungsi, makanan serta obat-obatan.  Mereka butuh pemulihan secara hukum.  Mereka butuh perlakuan secara adil di hadapan masyarakat.  Mereka butuh pengakuan negara sebagai warga negara di negaranya sendiri.  Mereka bangsa yang terusir dan terjajah dari negeri sendiri, hanya dikarenakan mereka berbeda agama dengan penduduk mayoritas.Humanity Zone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here