Ghetto untuk Rohingya

Bencana Kemanusiaan oleh Myanmar

836
0
BERBAGI

Muslim menjadi minoritas di negeri ini.  Memperkosa para wanita, menangkap serta membunuh Muslim Rohingya dilakukan oleh pemerintah Myanmar.  Pembunuhan dilakukan dengan membumihanguskan desa-desa yang berada di  Rohingya serta menembaki penduduk dengan brutal.  Myanmar mengerahkan militernya melalui air, daratan juga udara.

Kondisi mereka tidak menentu.  Anak-anak, perempuan, dan orang tua menangis.  Tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan, tinggal dimana, dan makan apa.  Mereka membutuhkan tempat berteduh, makanan dan obat-obatan.  Namun tidak ada bantuan yang mengalir dari dunia Internasional walaupun hanya sekedar makanan.

Maka siapakah yang membela mereka, ketika PBB tidak bisa menyelesaikan masalah genosida ini?  Hanya saja ketika muslim lemah, seakan dunia berpaling dari mereka.  Media pun minim pemberitaan.  Dan tulisan terbungkam.

Kekuatan militer mulai gencar dikerahkan oleh permerintah Myanmar terhadap Rohingya sejak 9 Oktober dan menuai beberapa teror.  Angka yang didapat sementara adalah sebagai berikut:

Desa yang Musnah

Korban Desa Status
ThaungPaingNya (Somoinna) hamlet of MyoThuGyi (Hainda Fara) village tract Musnah dan Dijarah
KyaukPyinSeik (Naari Bil) Musnah dan Dijarah
KyaYoePyin (Kiyari Ferang) Seluruhnya Dibakar (Dihancurkan)
Pyaung Paik (Haant Gojja Fara) hamlet NgaSaKyu (NashaFuru) village tract Seluruhnya Dibakar (Dihancurkan)
Wa’Peik (Wa’bek) Hampir Terbakar Seluruhnya
KyiKanPyin (KhawarBil) Beberapa Rumah Terbakar
NganChaung (NaingChaung) Beberapa Rumah Terbakar
Sakkara hamlet of PhaWatChaung (Faw Khali) village tract Beberapa Rumah Terbakar

 

Korban Jiwa

Nama Desa Korban Jiwa
KyaYoePyin (Kiyari Ferang)– 50
MyoThuGyi (Hainda Fara)– 7
KyaukPyinSeik (Naari Bil)– 7
OoKyiKyar (Bura Shidda Fara)– 6
Wa’Peik (Wa’bek)– 8
KyaukPyinSeik (Naari Bil)– 5
NgaKura (NashaFuru)– 1
Others– 7

 

Rumah Dibakar

Nama Desa Rumah Dibakar 
KyaYoePyin (Kiyari Ferang) 600 (dari 700)
Pyaung Paik (Haant Gojja Fara) hamlet of NgaSaKyu (NashaFuru) village tract 150
Wa’Peik (Wa’bek) 80
KyiKanPyin (KhawarBil) 25
NganChaung (NaingChaung) 20
Sakkara hamlet of PhaWatChaung (Faw Khali) village tract 20
Others 15

 

Orang yang Ditahan

Nama Desa  Orang Ditahan
AungSitPyin (Dumbai) 6
AukPhyuMa (HasarBil) 4
Du’dan (Ludain) 3
NgaSaKyu (NashaFuru) village 1
MaungNama (MonDama) 1
NwaRoneTaung 1
Maung Ni 1

 

Para ulama pun mengecam tindakan pemerintah Myanmar yang tidak beradab dan tanpa rasa kemanusiaan.

Muslim: Ancaman Bagi Agama Budha

Pengamat Politik Myanmar dari Universitas Deakin Australia, Anthony Ware mengatakan, terdapat dukungan kuat dari kelompok mayoritas Budha di Myanmar untuk melakukan aksi-aksi anti-Rohingya. Aksi tersebut dipimpin oleh para biksu Budha ultra nasionalis.

“Di Myanmar Muslim sering dianggap sebagai nasionalisme padahal Muslim itu penganut agama, bukan bangsa tertentu. Orang-orang Budha di Myanmar menilai Muslim sebagai ancaman bagi keamanan nasional dan ancaman bagi agama Budha,” katanya dilansir CNN, Jumat, (18/11).

Sebelumnya, militer juga sering melakukan kekerasan dan pemerkosaan terhadap tentara anak-anak. Kelompok HAM telah mendokumentasikan kejahatan militer Myanmar sejak lama. Terutama kejahatan terhadap etnis minoritas di Rakhine dan Kachin. “Saat ini Rakhine berada dibawah kendali militer. Penduduk Rakhine tak bisa berbuat apa-apa,” ujar Ware.

Pendiri Fortify Rights di Bangkok, Matthew Smith mengatakan, militer Myanmar saat ini sedang melakukan genosida terhadap suku Rohingya. Mereka melakukan segala cara untuk memusnahkan suku Rohingya dari muka bumi.

Militer Myanmar, ujar Smith, sedang memusnahkan umat Muslim di Rakhine. Mereka sedang melakukan kejahatan internasional.

“Kami telah mendokumentasikan bagaimana pemerintah di Rakhine berencana menghancurkan rumah-rumah suku Rohingya sebelum terjadinya kerusuhan Oktober lalu. Dokumen itu menunjukkan bagaimana strategi mereka menghancurkan Muslim Rohingya,” katanya.

Muhammadiyah kecewa dengan pemimpun Ketua Liga Nasional untuk Demokrasi Aung San Suu Kyi yang tidak bisa melindungi komunitas Muslim Rohingya di Myanmar. Muhammadiyah juga mengutuk keras tindakan militer Myanmar dalam beberapa waktu terakhir.

Muhammadiyah (Indonesia)

“Muhammadiyah menyampaikam kekecewaannya yang dalam kepada Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin National League for Democracy dan State Counsellor yang tidak melakukan langkah-langkah nyata untuk melindungi hak hidup orang Islam di negara yang dia pimpin,” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas.

Atas peristiwa yang terjadi di Myanmar, Anwar meminta komite nobel perdamaian mencabut nobel yang pernah diterima Aung San Suu Kyi. Sebab yang dilakukan Suu Kyi tidak mendukung terciptanya perdamaian dan persaudaraan antar sesama.

 

PERNYATAAN SIKAP

PERNYATAAN SIKAP BERSAMA
ARNO – Arakan Rohingya National Organization
(16 Oktober 2016)

Kami, yang berada dalam Organisasi Rohingya mengungkapkan keprihatinan serius kami pada kekerasan yang terus berlangsung oleh pihak militer dan polisi terhadap penduduk sipil di Northern Arakan.

Sejak 9 Oktober, dengan berkedok mencari para penyerang.  Militer dan polisi Myanmar tanpa pandang bulu membunuh penduduk Rohingya, membakar, menjarah rumah dan desa mereka.  Dua kuburan massal ditemukan dan sekitar 100 warga sipil yang ekstra-yudisial tewas itu termasuk orang-orang tua, wanita, dan anak-anak.  Setidaknya 5 desa Rohingya dibakar.  Menghancurkan banyak rumah atau seluruh desa.

Situasi yang berat telah menyebabkan banyak (penduduk) Rohingya melarikan diri dari desa mereka. Diperkirakan 5000 (penduduk) Rohingya telah mengungsi karena bencana kemanusiaan yang begitu besar.  Karena berlakunya jam malam dan blokade, maka sangat berdampak pada kekurangan makanan, obat-obatan dan kebutuhan lainnya.  Situasi ini secara eksponensial memburuk.  Ini merupakan pelanggaran hukum internasional dan Konvensi Jenewa.

Sementara kejahatan terhadap kemanusiaan telah nyata dilakukan oleh angkatan bersenjata gabungan dengan impunitas, pemerintah, sebagai bagian dari desain yang jahat, yang menyebarkan kebohongan kepada media bahwa “Bengali” – (cercaan rasial mengacu pada orang-orang-Rohingya yang membakar rumah-rumah mereka sendiri) untuk membuat komunitas internasional dalam keadaan kebingungan (terkecoh).

Kami kecewa dengan pernyataan terbaru dari Uni Eropa dan meminta mereka untuk membuat penilaian obyektif dari situasi di lapangan dan membantu korban pelanggaran HAM atas dasar kemanusiaan.

Kami juga meminta Penasehat Negara Daw Aung San Suu Kyi untuk campur tangan dalam masalah ini dan mengakhiri penumpasan militer terhadap penduduk sipil.

Dalam menghadapi bencana kemanusiaan saat ini, kami mendesak kepada PBB serta masyarakat internasional:

(A) Untuk memberikan perlindungan penuh kepada masyarakat Rohingya tak berdaya di Northern Arakan;
(B) Untuk memberikan korban dengan bantuan kemanusiaan yang diperlukan, termasuk kesehatan;
(C) Untuk menyelidiki seluruh kejadian dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.

Akhir kata, kami adalah orang-orang yang cinta damai percaya ko-eksistensi damai. Dan kami menuntut resolusi damai terhadap krisis.

Panandatangan;
1. Arakan Rohingya National Organisation
2. Burmese Rohingya Organisation UK
3. Bradford Rohingya Community in UK
4. Burmese Rohingya Community in Denmark
5. Burmese Rohingya Association Japan
6. Burmese Rohingya Community Australia
7. Canadian Burmese Rohingya Organisation
8. Rohingya Arakanese Refugee Committee
9. Rohingya Community in Germany
10. Rohingya Community in Switzerland
11. Rohingya Community in Finland
12. Rohingya Community in Italy
13. Rohingya Community in Sweden
14. Rohingya Organisation Norway
15. Rohingya Society Netherlands
16. Rohingya Society Malaysia

 

PERNYATAAN SIKAP  
Forum Kajian Zionisme Internasional
(20 Nopember 2016)

Arogansi dan kedzaliman pemerintah burma dan kaum biksu ektrim (serta pengikutnya telah melampaui demikian jauh rambu-rambu kemanusiaan. Kedzaliman yang mereka perlihatkan kepada khalayak Internasional beberapa waktu terakhir semakin menegaskan sikap pembantaian massal/genosida ini yang tidak mengenal arti kata perdamaian dan kesantunan.  Rohingya sebagai salah satu tanah yg ditempati kaum minoritas di Burma seakan menjadi medan permainan dari kebengisan dan kebuasan dari pemerintah Burma dan para biksu dan pengikutnya. Entah sudah berapa ribu nyawa kaum Muslimin yang melayang, berapa banyak anak-anak muslim rohingya menjadi yatim (bahkan sebagian di antaranya juga menderita cacat), bahkan dibunuh dan berapa pula kaum Muslimah rohingya yang tercabik-cabik kehormatannya.

Menyikapi kondisi yang semakin hari semakin memprihatinkan, terutama sejak gencarnya pembantaian massal yang dilakukan para biksu dan pemerintahny terhadap muslimin rohingya, maka FORUM KAJIAN ZIONISME INTERNASIONAL sebagai salah satu ormas (Organisasi Kemasyarkatan) dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh kaum Muslimin mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut:

1. Mengutuk agresi militer pemerintah burma serta biksu ekstrim dan kebrutalan yang dilakukan tentara pemerintah burma dan biksu ekstrim terhadap kaum minoritas muslim rohingya.

2. Menyatakan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas penderitaan yang dialami Muslim Rohingya akibat ulah dan kekejaman tentara pemerintah Burma dan biksu-biksu ekstrim.

3. Menyerukan kepada para pemimpin negeri-negeri Muslim di seluruh dunia untuk melakukan tekanan kepada pemerintah Burma agar segera menghentikan GENOSIDA yang dilakukan militer Burma dan biksu ekstrim.

4. Kepada seluruh kaum Muslimin diharapkan untuk melakukan aksi solidaritas terhadap kaum Muslimin Rohingya, dengan cara :

  1. Melakukan qunut nazilah (do’a).
  2. Menghimbau kepada seluruh pemimpin dan tokoh-tokoh Islam, para da’i, mubaligh, serta lembaga-lembaga Islam untuk berperan aktif dalam penggalangan bantuan bagi muslim rohigya.

5. Menuntut PBB dan dunia Internasional untuk:

  1. memberikan bantuan kemanusiaan dan perlindungan penuh untuk Rohingya.
  2. menginvestigasi seluruh kejadian yang ada dan menghukum pelaku secara adil.
  3. mencabut gelar Penghargaan Nobel Perdamaian pada Aung San Suu Kyi.

6. Menghimbau kepada seluruh media massa cetak dan elektronik di seluruh dunia agar dapat memberitakan situasi yang terjadi di Rohingya secara adil dan proporsional, sehingga tidak semakin menambah penderitaan kaum minoritas (Muslim Rohingya.)

Demikian pernyataan sikap ini dibuat, semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

 

DIASINGKAN TANPA TEMPAT

“Disinilah rumah keluarga saya dahulunya.” Mohammed (23) berkata.  Batangan beton yang patah dari rumah yang tidak lagi ada berserakan di sini dan di sana.  Berjarak dua jalan polisi Burma duduk di belakang kawat berduri.  Mereka menjaga pintu masuk dan keluar akses ke lingkungan Aung Mingalar Sittwe di Myanmar (Burma).  Di dalam pagar Aung Mingalar, Mohammed dan lima ribu Muslim Rohingya terperangkap dalam sebuah ghetto (daerah minoritas terisolir dan terdiskriminasi) masa kini, dipisahkan dari kota.  Tidak bisa pergi, bekerja, maupun sekolah. Diluar wilayah ghetto kehidupan terus berjalan.

Sepeda, becak, dan sepeda motor melintasi pagar.  Di seberang jalan, restoran dipenuhi dengan mahasiswa yang sedang mengobrol dari komunitas lokal Budha Rakhine.  Sudah beberapa bulan sejak rumah Mohammed di hancurkan oleh teroris Budha yang disaksikan oleh pemerintah Burma. Ia merasa rasa kehilangan hari itu adalah teror setiap hari yang ia lalui.  “Semua keluarga Rohingya dulu tinggal di sini.” Ia melanjutkan.  “Saya tidak suka ke sini.  Adik ku tewas dalam kekerasan itu.  Tidak ada yang tersisa di sini sekarang.  Sekarang kebanyakan tinggal di pengungsian.”


rohingya-rightsPenduduk Rohingya yang tinggal di Myanmar tidak memiliki hak.  Bahkan seekor burung mempunyai hak.  Seekor burung bisa membuat sebuah sarang, melahirkan, membawa makanan untuk anak-anaknya dan membesarkan mereka sampai mereka siap untuk terbang.  Kami tidak mempunyai hak-hak dasar seperti ini.


Penduduk Rohingya adalah Muslim minoritas dari Negara Bagian Rakhine di Burma bagian barat, dahulu dikenal sebagai Arakan.  Walaupun Rohingnya mempunyai jejak sejarah mereka selama berabad-abad, pemerintah serta kelompok lokal mengklaim bahwa Rohingnya berasal dari Bangladesh.  Lebih dari lima puluh tahun belakangan ini, pemerintah Burma telah menolak untuk mengakui Rohingya.  Hukum Kewarganegaraan Burma tahun 1982 menjabarkan bahwa ada 135 suku dalam negara ini.  Daftar tersebut tidak mengakui Rohingya, sebuah minoritas atas lebih dari satu juta orang yang lebih kuat, sewenang-wenang merampas sebuah kebangsaan dan menjadikan mereka terasing di negara mereka sendiri.


rohingya-nationality

Sejak kami tidak mempunyai kebangsaan di Burma kami tidak bisa hidup dalam damai.  Di Burma mereka katakan kami dari Bangladesh.  Ketika kami datang ke Bangladesh, mereka katakan kami dari Burma.  Orang memandang kita seperti ‘jika kami tidak pernah ada’.


Di Burma, Rohingya telah menjadi sasaran penganiayaan agama, pekerja paksa, pajak tinggi dan pemerasan seperti perampasan tanah.  Kehidupan sehari-hari telah dilumpukan oleh hukum yang diskriminatif dan tindakan administratif khusus telah diberlakukan kepada mereka.  Mereka tidak bisa bepergian secara bebas, memerlukan izin dari pemerintah untuk menikah atau untuk mulai membangun sebuah keluarga  dan hanya diperbolehkan mempunyai anak dengan jumlah yang dibatasi. Lebih dari tiga puluh tahun terakhir, ratusan dari ribuan telah meninggalkan kampung halaman mereka.  Kebanyakan dari mereka tidak diakui sebagai pengungsi dan rentan terhadap eksploitasi, perdagangan manusia dan pelaggaran kemanusiaan lainnya.


rohingya-family

“…Karena kita tidak mempunyai kewarganegaraan, kami seperti ikan yang keluar dari air, mengepak-ngepak dan tidak bisa bernafas.  Jika kami telah diberikan kewarganegaraan di Burma, kami seperti halnya ikan itu yang kamu tangkap dan kemudian dikembalikan ke air tempat kami berasal.  Kami masih berada di luar air, dan ketika seekor ikan berada di luar air, ia tercekik sampai mati.  Kami sudah berada di luar air sudah lama sekali dan kami tercekik.  Kami sedang tercekik sampai mati.


Rohingya Forced Labour
Rohingya Forced Labour

“…Rumah saya di Nazir seluruhnya terbakar.  Rakhine melemparkan bensin ke sana pada saat pasukan keamanan mengarahkan senjata kepada kita.  Kami meninggalkan seluruh kehidupan kami.  Kami tidak diperbolehkan untuk mengambil apapun dari rumah.

Tahun 2012, kekerasan meletus antara Rohingya dan komunitas Rakhine.  Kekerasan tersebut bertujuan menghapus seluruh komunitas Rohingya dari Sittwe.  Melalui Rakhine, desa-desa dan lingkungan Rohingya telah rata dengan tanah.  Bisnis dan properti telah dirampas.  Lebih dari seratus empat puluh ribu orang Rohingya terlantar dan dipaksa hidup dengan keberadaan yang terdiskriminasi dalam kamp penawanan yang terisolir untuk Internally Displaced People (IDP).  Di dalam kamp, mereka tidak bisa keluar, pergi ke sekolah, dan menerima perawatan medis yang layak dan tergantung dari bantuan kemanusiaan internasional.

Rohingya IDP
Rohingya IDP

Transisi Burma terhadap demokrasi telah menciptakan ruang baru untuk suara politik.  Dengan mempromosikan intoleransi beragama, rasisme dan kebencian terhadap Rohingya, ultra-nasionalis biksu Budha dan partai politik Rakhine telah mengedepankan agenda mereka untuk bagaimana Burma seharusnya menetapkan identitas nasionalnya.  Kedua kelompok tersebut menolak untuk mengakui keberadaan sebuah komunitas yang disebut “Rohingya”.  Pemerintah setempat tetap memaksa bahwa mereka harus menyebut diri mereka sebagai “Bengali” sebelum pertimbangkan apapun diberikan kepada kewarganegaraan mereka.  Pada tahun 2014, mereka tidak dimasukan ke dalam sensus yang diadakan pertama kali dalam kurun waktu tiga puluh tahun, dan pada tahun 2015, pemerintah menolak untuk mengakui kartu identitas sementara mereka.  Beberapa kelompok kemanusiaan telah menggambarkan tentang penganiayaan yang sedang terjadi sebagai penghapusan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan komunitas internasional telah mengutuk situasi tersebut.  Amat disayangkan, pemimpin dalam negeri tersebut hampir tidak menunjukkan keinginan politiknya untuk menunjukkan amarahnya atau mengakui Rohingya.  Pembiaran ini mengabadikan pelanggaran yang mengganggu mereka selama lebih dari lima puluh tahun.


Tiga mil ini – dimana semua Rohingya hidup, seperti tiga-mil penjara.

rohingya-idp-jail
Rohingya IDP Jail

Setiap tahun, ribuan Rohingya membayar calo untuk membawa mereka (dengan ilegal) dengan perahu dari Burma dan Bangladesh ke Malaysia, Thailand, dan lainnya.  Baru-baru ini, ribuan Rohingya telah terkirim ke para tangan para pedagang manusia di Thailand dan juga Malaysia dimana mereka terpenjara di dalam kamp hutan, terjual untuk perbudakan atau menghilang begitu saja.  Putus asa dan meningkatkan resiko atas kekerasan, Rohingya terus maju walau jalan berbatu berada di bawah kaki mereka.  Mereka menderita atas perlakuan Burma namun bersabar.  Mereka melarikan diri ke negara lain dan beradaptasi.  Mereka menempatkan diri mereka pada resiko yang tinggi untuk keluarga mereka, bertekad melihat kehidupan mereka untuk tidak hancur.


Tidak ada kehidupan untuk tinggal di sini jadi dia pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.  Dia berada di perahu dua bulan lalu.  Sekarang kami tidak tahu keberadaannya.  Apa yang istri dan putrinya akan lakukan sekarang?

rohingya-nowhere
Rohingya Nowhere

Dinding terpal melapisi hembusan dan hirupan ketika angin bergerak ke arah Monzur (30) meliputi gubuk darurat di Bangladesh selatan.  Ia duduk mengenakan sebuah longyi berwarna hijau gelap dengan kakinya bersilang.  Dia menjelaskan bagaimana saat itu terlihat seperti tidak ada akhirnya terhadap penyiksaan dia dan penduduk Rohingya lainnya pada kehidupan sehari-hari.  Dia meninggalkan Burma lebih dulu tahun itu, menyeberangi Sungai Naf, tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.  Duduk di antara kotoran, penyakit, dan keputusasaan atas kehidupan barunya di Bangladesh, dia masih mengatakan bahwa lebih baik di sini dari pada kembali ke rumah.  Namun masih meraba realita dan kesedihan meliputi matanya: dia seorang pengungsi tak bernegara, hidup dibawah batasan kemanusiaan, dengan sedikit harapan untuk kembali ke rumah.  “Tuhan menciptakan mahluk yang beragam, dan setiap mahluk mempunyai tempat untuk hidup.” kata Monzur. “Semut dan ular mempunyai lubang.  Ikan mempunyai air.  Harimau dan beruang mempunyai semak-semak.  Tapi Rohingya tidak mempunyai tempat untuk hidup.  Dia ingin bertanya kepada dunia, dimanakah tempat kami?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here