411: ‘The Missing President’

Ahok Blasphemy

619
0
BERBAGI

Seusai salat Jumat pada 4 November 2016 lalu, jutaan umat islam dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di Masjid Istiqlal Jakarta. Mereka menginginkan agar pihak kepolisian segera memproses hukum Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama perihal kasus penistaan ayat Al-Qur’an.

Sekitar kurang lebih dua juta orang memadati jalan-jalan menuju Istana Negara, Jakarta 04 Nopember 2016.  Mayoritas memakai baju berwarna putih, memutihkan Jakarta dari angkasa. Pembukaan aksi ditandai dengan dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia Raya.  Tidak lama setelah itu orasi pun dimulai.

dsc01696
411: Muslim haters have no place

Hal ini bukanlah baru pertama kali.  Tuntutan untuk menegakkan hukum yang tidak tebang pilih terhadap dugaan ‘Penista al Qur’an’ belum juga direpon dengan baik oleh pemerintah Jokowi.  Sekalipun MUI telah mengeluarkan fatwa tentang hal ini.  Namun jutaan rakyat yang datang pun tidak bertemu dengan Presiden Jokowi.

411: Fahri Hamzah
411: Fahri Hamzah

 

4 Nopember 2016

D-O-R

411: Istana
411: Istana

Suara tembakan menggelegar di atas langit Ibu Kota, tepat di Depan Istana. Mobil Barracuda itu menyemburkan cahaya yang bercabang ke atas langit dan kembali bercabang menukik mengkilat keemasan. “Blush..” asap menyebar melayang-layang menyergap hidung dan mata. “Dor..” “dug..” Dor..” susulan tembakkan terdengar super keras berdebam. Takbir menggema di segala penjuru di hamparan Jalan Merdeka Barat selemparan batu dari Istana Negara kita. Polisi memegang pentungan dan perisai mulai merangsek maju.

Lampu – lampu mobil baja itu berkelap-kelip. Gemuruh riuh di sana-sini. “Brrrmmmm…” mobil Water Cannon itu mulai menderung menyemburkan ribuan kubik air tak henti-hentinya.
Takbir bercampur haru di tengah hampir satu juta massa Aksi Bela Islam atau Aksi Bela Al-Quran Jumat malam (04/11/2016) tepat pukul 19.30 WIB.

Berdasarkan laporan pandangan mata di lapangan, aksi kericuhan bermula karena ketidak-jelasan Presiden Joko Widodo menemui massa umat Islam yang menuntut penegakkan hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Sebelumnya, Bahtiar Nasir, Jurubicara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) mengabarkan mereka hasil pertemuan dengan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla bahwa sudah ada komitmen pemerintah memproses Basuki Tjahaja Purnama dalam waktu dua minggu.

Tenggat waktu yang dinilai lama ini rupanya ikut memicu kemarahan massa jutaan orang yang datang hampir dari seluruh propinsi di Indonesia. “Kenapa Pak Presiden tidak mau menemui kami yang jumlahnya hampir satu juta orang? Sementara jika yang datang itu GIDI pelaku pembakaran Masjid di Tolikara beliau malang mengundang ke Istana?’ ujar seorang pria berbaju putih berjenggot tipis.

411: HMI
411: HMI?

Kericuhan lain juga diduga dipicu ulah perwakilan di sudut jauh, yaitu massa Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI) MPO yang sejak aksi turun ke jalan dimulai memancing aparat ke amanan di posisi depan dengan teriakan dan lemparan-lemparan benda, namun Habib Rizieq terus menenangkan massa, bahkan FPI bersusah payah menjaga kepolisian.

Massa mulai panik ketika dimulai tembakan gas air mata di tengah massa. “Jangan tembak kami, jangan tembak kami,” kata massa dengan tenang. Namun, suara-suara minor itu terkalahkan dengan suara menggelegar yang memenuhi awan. “dor..dor..dor..” Berpuluh-puluh gelegar menggantung di atas langit Jakarta.

Korban gas air mata banyak terjadi di pihak massa Aksi Bela Al-Quran.

Air mata menggeliat tak terasa dari sudut mata. “Ya Rabb…itu kiai dan habib kami ditembaki,” ujar seorang peserta massa melihat mengapa polisi menembaki kea rah mobil yang ditempati para tokoh Islam, kiai dan habaib.
Termauk diantaranya ada KH Bachtiar Nasir, Arifin Ilham, Habib Rizieq Shihab dan beberapa lainnya. Di atas mimbar, Habib Rizieq masih  bergeming dan tetap menenangkan massa. “Apa salah para ulama kami ya Allah,” lirih massa lainnya. Sementara massa terus menutup hidung dan mengucek mata. Hawa yang memekakkan mata membuat air mata terus berderai. Sebagian lari mencari tempat aman.

411: Jurnalis dan Gas Air Mata
411: Jurnalis dan Gas Air Mata

Para jurnalis terhenyak, menutup telinga, suara tembakkan yang berseru tak berhenti sekejappun. Semua menepi, mulai mengoleskan secuil odol di kantung-kantung mata dan apasaja yang bisa menjadi pengaman tubuh.

411: Jurnalis dan Gas Air Mata
411: Jurnalis dan Gas Air Mata

Sebagian membasahi wajahnya dengan air. Gas air mata sudah mengambang di pelataran Medan Merdeka. “Allahu Akbar… Allahu Akbar,“ teriak para wartawan yang ketakutan.

Sementara itu, di atas pick up, para ulama terus berseru takbir, beristigfar bahkan sempat menyeru melafalkan Kalimat Tauhid. “Lailahailallah..lailahailallha..lailahailallah..” ujar suara Habib Rizieq.

Sementara tembakan gas air mata tak berhenti dan beberapa peserta aksi ada yang tumbang.

411: Kabut Merah
411: Kabut Merah

Nampaknya, seruan jangan tembak menguap dan sirna di udara malam yang semakin memanas. Satu per satu peserta aksi tumbang, mual, hingga batuk-batuk dan muntah. Nyala keemasan menyala di atas langit, membentuk kabut merah.

Gemuruh semakin hebat. Massa hanya bisa pasrah ditembaki hingga para kiai dan tokoh-tokoh Islam yang  berdiri di mobil komando Aksi Bela Islam. Kalimat takbir, tahlil, tahmid masih terus terlafal. Habib Rizieq bahkan masih berkali-kali menenangkan massa sambal berlafal kalimat tauhid lirih.

Tiba-tiba suara ketukan mikrophone  menggelegar. “Saya Panglima TNI, semua dengarkan saya, komando ada di saya,” ujar Jenderal TNI Gatot berusaha menenangkan suasana di tengah tembakkan yang terus terjadi. “Ini ada Kapolri ingin bicara, coba dengarkan,” kata Panglima TNI menyerahkan mikrophone ke Kapolri. “Saya Tito Karnavian, Kapolri kalian, kepada setiap anggota kepolisian tolong hentikan tembakan,” kata Jenderal Tito yang datang memerintahkan kepada anggotanya untuk tak menembak. Bukannya mereda, suara tembakan justru semakin banyak. “Tolong dengarkan saya sebagai Kapolri, hentikan tembakkan sekarang juga,” kata Tito kembali mengulang.
Namun, imbauannya tak digubris, suara tembakkan masih terus menggelegar. Polisi masih terus menembaki demonstran.

411: Mundur Perlahan
411: Mundur Perlahan

Jam 20.30 WIB suasana makin tak terkendali, massa sebagian mundur dan banyak terluka, terutama kena pengaruh gas air mata.

Pukul 21.00 malam massa umat Islam  menarik diri beristirahat di Masjid Istiqlal, sebagian terus melaku menuju Kantor DPR-MPR Jalan Gatot Subroto – Jakarta untuk menginap dan beristirahat. Sementara itu, suasana sekitar Istana Negara mulai sepi

(Sumber: Tim JITU, Rizki L, M Pizzaro dan Daus)

5 Nopember 2016
-DPR MPR Update-
Pkl.00.20-03.50 WIB.

1. Setelah hampir 1 jam tim lobi dr GNPF MUI melobi pimpinan MPR & DPR, akhirnya pd pkl.01.00 lebih diinfokan bhwa pimpinan DPR MPR akan menerima 8 org delegasi Ulama.

2. 8 org delegasi itu ialah: Habib M Rizieq Syihab, Ust. Bachtiar Natsir, KH. Mishbahun Anom, KH. Zaitun, Ust. Munarman, dan 3 oang lainnya saya belum bisa ingat.

3. Rapat dgn pimpinan DPR & MPR berlangsung selama 2 jam lebih, mulai pkl.01.10-03.30 WIB.

4. Selama rapat brlgsung, kami peserta aksi istirahat, tidur di jalanan depan DPR sampai membludak membanjiri sebagian jalan tol.

5. Kepadatan peserta aksi mulai dr restoran pulau 2 sampai pertigaan fly over menuju Slipi, silahkan diprediksikan saja brp jumlahnya.

6. Pada sekitar Pkl.03.30, alhamdulillah 8 org delegasi bersama pimpinan DPR & MPR keluar dr gedung menuju mobil komando bersama-sama, disambut dgn riuhan sholawat dan takbir.

7. Anggota DPR & MPR yg hadir naik ke mobil komando ialah: Zulkifli Hasan (Ketua MPR), Habib Abu Bakar Al Habsyi (Komisi III), Dasko (Ketua MKD), Muslihin (DPR), Hanafi Rais (DPR).

8. Habib Abu Bakar Al Habsyi yg pertama menyampaikan statement, kedua Pa Dasko (Ketua MKD), ketiga Zulkifli Hasan (Ketua MPR), kesemuanya memenuhi semua tuntutan peserta Aksi utk memenjarakan Ahok atas tindakan penistaan Al Quran.

9. Pokok-pokok statement yg disampaikan td dr ketiga pimpinan DPR & MPR tsb adalah:

a) hari senin 7 nov atau setelahnya, Komisi III akan memanggil Kapolri meminta pertanggungjawabannya atas penembakan kpd demonstran,

b) DPR berjanji akan dgn serius mnegawasi & mengawal proses penegakkan hukum Ahok si penista Al Quran dgn memanggil Kapolri,

c) proses hukum Ahok hrs dilakukan dgn secepat-cepatnya.

10. Habib Rizieq menyampaikan bahwa Ahok akan diperiksa oleh Polri hari senin 7 nov. Proses hrs kita kawal, Ahok hrs ditahan, kl tdk ditahan tunggu instruksi selanjutnya.

11. Sebagaimana yg disampaikan oleh Habib Rizieq sebelum menutup aksi, beliau menyampaikan berdasarkan “laporan yg masuk ke Habib Rizieq bahwa ada sekitar 150 org yg terluka & dirawat di RS Budi Kemuliaan & sebagian di RSCM, dan 1 org meninggal dunia”.

*Sebabnya blm diketahui, apakah akibat tertembak peluru karet atau keracunan gas air mata atau bentrokan fisik dgn Polisi (peristiwa, identitas & data blm diketahui secara pasti).

12. Kemudian, aksi ditutup dgn sambutan dr Ketua GNPF MUI Ust. Bachtiar Natsir dgn statement inti “bahwa aksi damai kita berlangsung dgn maksimal walaupun kita ditekan, ditembaki, dipukul tp kita tdk membalas, kita tdk melawan, krn niat awal & tujuan kita adalah damai dan utk kemuliaan Islam”. Habib Rizieq memperkuat statement Ust. Bachtiar Natsir bahwa “sebenernya kita bs saja melawan, perang, tp kita ini aksi damai, kita tdk boleh diadu domba melawan Polisi & TNI, mereka saudara kita jg, kita fokus pd kasus penistaan Al Quran oleh Ahok”.

13. Aksi ditutup oleh Korlap Ust. Munarman (panglima) dgn mengatur rute kepulangan peserta aksi.

14. DPR menyiapkan bus utk semua peserta aksi yg pulang di wilayah Jakarta dan berjanji menyiapkan bus yg akan pulang ke Sumatera dan Pulau Jawa. Semua ini sbg bentuk pemuliaan kpd rakyat Indonesia & ummat muslim yg sudah berjuang tulus ikhlas demi menegakkan kemuliaan Islam.

15. Sy pun lgs pulang naik motor, dan kebanyakan peserta aksi sholat subuh di dpn DPR.

Sekian update dr DPR.
Mohon utk disebarluaskan kpd masyarakat umum.

Ttd.
Helmi Al Djufri
KB PII Kota Bandung/ PJMI

 

Konferensi Pers

Beberapa hasil konferensi Pers GNPF MUI terkait aksi damai 4/11,

1. Jokowi telah melakukan kebohongan tentang adanya kesepakatan antara Istana dengan peserta aksi. Yang ada pihak istana menawarkan pada peserta aksi yang akhirnya tawaran itu ditolak oleh peserta.

2. Polri telah melakukan kebohongan. Dengan memberi keterangan Polisi hanya menembakkan gas air mata saja. Tapi faktanya, Polisi bukan hanya menembakkan gas air mata tapi juga peluru karet dan sengaja menabrak peserta aksi dengan motor hingga ada yang tergilas. (Polisi bukan hanya ZHALIM tapi juga BIADAB!).

4. Jumlah massa peserta aksi ada sekitar 2 juta orang, aksi berjalan tertib dan damai.

5. Jika aksi damai kemarin ditunggangi partai atau aktor Politik, silahkan tunjuk saja siapa orang atau darimana partainya secara terang-terangan.

6. Dana yang terkumpul dari donasi ada 3.5 Miliar, bahkan dalam satu hari saja terkumpul 1 Miliar. Tidak hanya dari umat Islam Indonesia tapi juga umat Islam Indonesia di London, Malaysia, Kuwait, Qatar, dll.

7. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan pakar Hukum Tata Negara pak Margarito ikut dalam barisan longmarch.

8. Wakapolri membentak utusan GNPF MUI, Ustadz Bachtiar Nasir, bahkan sempat mengancamnya.

9. TIDAK BENAR jika pak Syahrie meninggal karena asma tapi beliau meninggal karena GAS AIR MATA. Catat, GAS AIR MATA.

 

Sang Syahid

Syahrie Oemar Yunan
411: Syahid – Syahrie Oemar Yunan (65)

SYAHRIE OY BIN UMAR, ABU AYYUB AL-ANSHARI MODERN
Oleh: Nicko Pandawa, Warga Binong Permai, Tangerang, dan aktivis GEMA Pembebasan

Data:

Bpk. Syahrie Oemar Yunan ,
Usia sekitar 65 tahun, alamat Komplk Binong Permai Blok F.14 No.24 RT.007 RW.007
Kel. Binong
Kec. Curug
Kab. Tangerang
Prov. Banten

Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok mendapat reaksi yang beragam. Ada marah, ada yang biasa saja, bahkan ada yang membela. Namun, bagi seseorang yang mewakafkan dirinya untuk agama Islam sejak lama, penistaan yang Ahok lakukan terhadap al-Qur’an membuat ghirah dan kemarahannya memuncak. Hal itulah yang dirasakan oleh Ust. Syahrie OY bin Umar, seorang sesepuh dan tokoh agama di komplek perumahanku, Binong Permai.

Sebenarnya, sudah semenjak lama beliau menolak keberadaan seorang pemimpin yang tak satu akidah dengannya. Penolakannya terhadap pemimpin kafir bukan berarti beliau anti-nonmuslim, bukan. Menurut penuturan istrinya, Ibu Hermalina, beliau senantiasa lembut dan tidak sungkan menolong siapapun, termasuk kepada orang nonmuslim. Hanya saja dalam masalah kepemimpinan, beliau menegaskan pendiriannya, kaum Muslim haram dipimpin orang kafir! Walaupun Ust. Syahrie Oye tinggal di Binong Permai, Tangerang, tidak membuat kepeduliannya sirna akan nasib penduduk Jakarta yang dipimpin Ahok yang kafir. Ia senantiasa tegas menyerukan sikapnya akan keharaman pemimpin kafir.

Sampai pada puncaknya pemimpin kafir tersebut, dengan seragam dinas, secara terang benderang menistakan al-Qur’an dan para ulama. Meledaklah amarah kaum Muslim yang benar imannya, termasuk Ust. Syahrie Oye. Terlebih lagi proses hukum yang dilakukan pihak kepolisian amat sangat lamban, juga sikap Jokowi yang terkesan melindungi Ahok. Siapa yang tidak mendidih amarah dan ghirahnya?

Ketika gaung panggilan demonstrasi besar-besaran di tanggal 4 November, beliau amat sangat sukacita menyambut seruan itu. Walaupun usianya sudah menua, 65 tahun, faktor tua nan renta bukanlah halangan baginya untuk turun ke jalan membela Islam.

Pikiranku terbang menuju masa lalu, jauh menembus tempat dan waktu, melintasi berbagai peristiwa bersejarah, sampai pikiranku sampai kepada sosok sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Ayyub al-Anshari. Sahabat yang pernah menyediakan tempat tinggal kepada Rasulullah sewaktu proyek pembangunan Masjid Nabawi tengah berlangsung. Ketika masa Bani Umayyah di bawah Yazid bin Muawiyah, Yazid menyerukan jihad untuk menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota yang dijanjikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan takluk di tangan kaum Muslim. Saat itu, usia Abu Ayyub tak lagi muda. Kulitnya telah keriput, rambutnya memutih, dan tenaga sudah tak seperkasa dulu. Namun, fisik boleh lemah, tapi satu yang tak boleh turun; Semangat Jihad!

Maka Abu Ayyub al-Anshari mendesak Yazid sang Khalifah agar mengikutsertakan dirinya dengan pasukan ekspedisi jihad menuju Konstantinopel. Tentu saja Yazid menolak. Bukan meragukan keimanan sang sahabat Nabi ini, tapi kasihan karena Abu Ayyub sendiri telah tua. Abu Ayyub terus memaksa, sampai akhirnya luluh hati Yazid. Ditanyalah sahabat Nabi yang tua renta itu, apa alasannya bersikeras untuk ikut berjihad? Dijawablah oleh Abu Ayyub dengan ayat, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.”

Kisah menakjubkan Abu Ayyub al-Anshari itulah yang langsung teringat di kepalaku ketika mendengar cerita Ibu Hermalina, istri dari Ust. Syahrie Oye, tadi sore. Ibunda menceritakan, ketika mendengar panggilan jihad untuk menuntut Ahok Si Kafir penista agama pada 4 November, Ust. Syahrie Oye begitu antusias. Dari jauh-jauh hari beliau menyiapkan perbekalan dan pakaian untuk nanti turun aksi ke Jakarta. Bahkan saking semangatnya, beliau mencuci dan menyetrika sendiri beberapa pakaian putih untuk dresscode ketika aksi yang akan datang. Selaku tokoh masyarakat, beliau juga berusaha mengajak sebanyak mungkin warga untuk turut serta mengikuti Aksi Bela Islam 4 November. Namun, dari sekian banyak yang beliau ajak, hanya tiga orang yang bersedia menuruti ajakannya.

Anak-anak Ust. Syahrie Oye merasa ayahnya tidak perlu ikut Aksi Bela Islam 4 November, karena dirinya mempunyai udzur sudah tua. Anak-anaknya membujuk agar Ust. Syahrie Oye tidak usah ikut. Namun semangat jihad membela Islam sudah membuncah-buncah keluar dari jiwa Ust. Syahrie Oye. Akhirnya, beliau tidak menghiraukan bujukan anak-anaknya dan tetap pergi berjihad ke Jakarta. Bahkan beliau sendiri yang menyetir mobil.

Aku sendiri mengikuti Aksi Bela Islam 4 Nopember kemarin. Kurasakan betapa momen tersebut sangat mengharukan dan menggembirakan. Sekitar 2,3 juta kaum Muslim dari berbagai daerah di Indonesia datang berbondong-bondong ke Jakarta untuk satu tujuan: Tangkap Ahok. Mereka shalat, bertakbir, dan bersalawat bareng, menggetarkan langit Jakarta dengan kalimatul haq. Demonstrasi berjalan damai, sejuk, dan terkendali. Melihat kemaslahatan dan kondisi, aku dan teman-teman rombongan memutuskan pulang jam 16.30 WIB. Kami mengantri tiket commuter line dan kemudian naik kereta.

Sambil diperjalanan, aku melihat-lihat perkembangan berita tentang Aksi Bela Islam tadi. Tiba-tiba hatiku bergetar. Ternyata dari sebelum Jum’atan Jokowi sudah pergi dari Istana? Aku baru tahu tentang itu di kereta karena selama demonstrasi tadi benar-benar tidak ada sinyal. Hatiku berdegup makin kencang setelah mengetahui bahwa demonstrasi menjadi ricuh. Provokator mulai beraksi. Para polisi mulai menembakkan gas air mata ke arah para demonstan yang terdiri dari ulama, habaib, santri, mahasiswa, dll. Yang lebih perih lagi ketika aku mendengar bahwa korban mulai berjatuhan.

Kuikuti terus perkembangan informasi, sampai akhirnya kuketahui bahwa satu korban yang meninggal itu adalah Ust. Syahrie Oye, seorang tokoh agama di komplek perumahanku. Rumahnya dekat dengan SD-ku dahulu, SD Binong Permai. Maka bersama teman-teman GEMA Pembebasan, aku berangkat melayat ke kediaman almarhum.

Sesampai disana, kami disambut oleh keluarga dan para tetangga yang ditinggal wafat Ust. Syahrie Oye. Istri almarhum, Ibunda Hermalina, walaupun matanya masih memerah bekas tangisan, tapi wajahnya begitu tenang dan tegar. Beliau katakan, “Ibu tuh sedih-sedih tapi bahagia.” Kemudian salah seorang anaknya menyampaikan kepada kami bahwa almarhum Ust. Syahrie Oye wafat memang karena gas air mata, bukan karena asmanya kambuh. Ust. Syahrie Oye tidak mempunyai riwayat penyakit asma sebagaimana yang diberitakan media. Adapun penyakit bawaannya adalah maag, bukan asma. Dan ketika demonstrasi berlangsung ricuh, pekatnya asap gas air mata membuat beliau sangat lemas dan pingsan, sampai ketika dibawa ke RS Gatot Subroto, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un..

Persis seperti Abu Ayyub al-Anshari, beliau syahid dalam keadaan berjihad dengan fisik yang renta. Hanya beliau yang mati syahid di antara 2,3 juta kaum Muslim yang turun ke jalan pada hari itu, 4 November. Insya Allah, beliau akan berada di sisi Allah dalam keadaan diridhai dan satu barisan bersama Hamzah bin Abdul Muthallib, sayyidusy syuhada. Kematian Ust. Syahrie Oye bin Umar akan menjadi lecutan bagi umat Islam, khususnya kaum muda, untuk lebih garang lagi membela Islam dan berjihad untuk melanjutkan kehidupan Islam. Yang tua saja turun, masa yang muda duduk-duduk?

Namun, semua ini tidak akan terjadi andaikan pemerintah bersikap tegas kepada si kafir penista agama, Ahok. Proses hukum yang sengaja dilambatkan dan bertele-tele memicu kemarahan ummat meledak pada 4 November. Sistem demokrasi yang senantiasa digaungkan oleh pemerintah telah terbukti tidak ada untuk Islam dan kaum Muslim. Demokrasi hanya ada untuk para kapitalis yang mengendalikan negeri ini dengan bonekanya, Jokowi. Mungkin Ummat Islam saat ini diperlakukan tidak adil. Tapi nanti di pengadilan Allah di Akhirat, para penguasa kafir dan durjana tidak akan bisa lari kemana-mana!

Allahummanshurna alal qaumil Kafirin![]

 

7 Nopember 2016

Jaringan Muda Nahdhatul Ulama (JMNU)

“Revolusi Pasti Terjadi, Jika Ahok Tak Di Tangkap”

Fakta bahwa ada 2 Juta lebih masa umat Islam Jumat pekan lalu di bawah komando Habib Rizieq Syihab  mengepung Istana negara dari penjuru mata angin. Dari barat, timur, utara dan selatan tak dapat di pungkiri.

Jika Presiden Jokowi menunjukan sikap pembelaan yang membabi buta terhadap Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan Al Qura’an dan penghinaan terhadap ulama seperti sikap Jokowi belakangan ini paska aksi bela Islam 2 maka dapat di pastikan revolusi sosial niscaya akan terjadi.

Kami ingatkan kepada Presiden, salah ambil langkah maka jabatan anda sebagai taruhannya. Kami tau bahwa orang-orang di belakang Ahok lah yang mendukung anda menjadi Presiden.

Tapi jika itu menyandera anda dan mengorbankan umat Islam yang marah karena kitab sucinya di hina maka kehancuran akan bersama anda semakin dekat. Revolusi pasti terjadi jika Ahok tak di tangkap. Tanda-tandanya sudah nampak dari besarnya perhatian rakyat dan aksi protes di berbagai daerah.

Melihat sikap Kapolri dari mimik wajah maupun pernyataan di televisi kelihatan bahwa Tito Karnavian dalam tekanan berat dan hanya bisa menuruti arahan dan perintah Presiden sehingga supremasi hukum terabaikan. Hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Semua ormas Islam termasuk NU dan Muhammadyah sudah bersikap agar proses hukum tetap berlanjut dan berkeadilan.

Untuk itu kami akan mengamankan Fatwa Ulama di bawah rois am KH. Ma’ruf Amin bahwa yang secara tegas mengatakan Ahok telah menista Al Qura’an dan menghina ulama.

Pilihan ada pada anda bapak Presiden, Tangkap Ahok atau Revolusi yang gelombangnya akan menyapu kekuasaan anda.

Jakarta, 7 November 2016

ttd

M.Adnan Rara Sina
Sekretaris Jenderal JMNU
089673686649 (wa)

 

08 NOPEMBER 2016

#Surat Terbuka Untuk Presiden RI dan KAPOLRI

dsc01718
411: HMI

Kepada Yang Terhormat Bapak Presiden RI di Tempat

Kepada Yang Terhormat Bapak Kepala Kepolusian RI di Tempat

Saya yang menulis surat terbuka ini adalah seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dilahirkan dan tumbuh besar di Bangsa ini.

Saya menulis surat terbuka ini tepat pukul 5.00 WIB setelah solat subuh. Dengan rendah hati ditambah penuh permohonan, datang dihadapan Bapak melalui surat terbuka ini agar kiranya bapak dapat mempertimbangkan segala hal yang bagi saya cenderung mengembalikan rezim otoritarian yg telah kita kubur bersama 18 tahun yg lalu.

Bapak Presiden Yang saya Hormati! Jika mengkritikmu agar kembali ke jalan yang benar sesuai dengan amanah Tri Saktinya Soekarno adalah bahagian dari pelecehan terhadap simbol negara. SAYA SIAP Di Penjara.

Ubi kayu di impor, beras di impor, garam di Impor bahkan cangkulpun telah di impor, Hutang negara semakin membumbung. Apakah itu ajaran Tri Sakti?? Tidak! Kita tidak sedang berdiri di atas kaki sendiri

Bapak Presiden Yang saya Hormati!!
Jika saya mengkritikmu agar bapak kembali ke pasal 33 UUD 1945 adalah penghinaan terhadapmu. SAYA siap di Penjara.

Merujuk laporan Bank Dunia pada tanggal 15 Desember 2015 silam, sebanyak 74 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh 0,2 persen penduduk. Tambah lagi dengan temuan KOMNAS HAM soal hampir 5.000.000 hektare tanah yg dikuasai oleh cukong. Apakah itu ajaran Tri Sakti?? Tidak!! Bukan itu yang diwariskan oleh Bung Karno pada anak cucunya.

Bapak Presiden Yang saya Hormati! Sekitar 1.000.000 lebih ummat islam kemarin hadir di kantormu, termasuk Saya. Tentu ada banyak alasan yang mendorong mereka hadir. Kira-kira ada tiga, pertama yg benar-benar terpanggil karena kitab sucinya dileceh. Ke dua, dia yg punya kepentingan politik atas kisruh ini. Ke tiga, kehadirannya akibat akumulasi kekecewaan terhadap penegakan supremasi hukum yg cenderung tumpul saat dihadapkan pada patnermu dulu.

Nah.. di sini posisi dan alasan saya untuk hadir di istananya Bapak. Pertama, kitab suci saya dilecehkan oleh oknum yang tidak sama sekali memiliki otoritas untuk menggunakan kutipan ayat itu. Al-Qur’an adalah pedoman hidup Saya, pentunjuk hidup saya dan kitab ini adalah UU tertinggi yang sy imani sampai detik ini bahkan sampai mati. Insya Allah. Amin!

Jika kehadiran saya untuk menyuarakan kesucian Kitab saya kemudian bapak anggap sebagai bahagian dari gerakan politik. Silahkan Tangkap dan penjarakan Saya.

Begini bapak presiden, tipikal elit itu cenderung identik dgn oportunis. Jika garakan itu kecil dia akan biasa2 saja, tetapi bila gelombang masa semakin membesar, ia akan menyebrang masuk untuk memungut keuntungan.

Itu kira-kira yg saya amati kemarin, apakah itu salah?. Secara pribadi saya meyalahkan, tetapi sy juga tak punya kuasa menghardik lalu mengusir mereka dari tempat itu. Konklusinya ini alam demokrasi yang hampir meniscayakan segala hal bisa dilakukan demi mengambil keuntungan sebesar-besarnya.

Bapak Presiden yang saya Hormati!
DEMI ALLAH DEMI ROSUL., saya tidak sama sekali berada pada posisi ke dua. Saya justru lebih pada urutan ke tiga dari analisa di atas.

Kenapa demikian?. Ada temuan BPK RI soal sumber Waras yg semestinya ditindak lanjuti oleh KPK, nyatanya BPK yang disalahkan. Penghentian reklamasi oleh beberapa menteri akibat ada kejanggalan dalam pemberian ijin. Nyatanya aguan di cabut masa cekalnya lalu berkunjung ke Istana. Rizal diganti luhut olehmu lalu reklamasi dilanjutkan. Saya ingin tanya, siapa kira-kira pemesan dan pemilik pulau buatan itu? Siapa juga kira2 yang nanti bisa bersantai ria menikmati pulau reklamasi itu?.

Jika saya mengkritik kebijakan itu lalu saya salah Silahkan tangkap dan penjarakan saya.

Ini untuk Bapak Kapolri yang saya Hormati!

Pak Tito, sekitar pukul 11 malam WIB (7/11/16). Ada sekolompok anak buahmu datang ke Sekretariat PB HMI lalu menagkap Sekretaris Jenderal Institusi ini. Merka datang seperti hendak menagkap teroris yang telah mencabut sekian nyawa.

Lalu dibawa ke Polda metro Jaya dan di ambil keterangan dan ditahan tanpa⁠⁠⁠⁠ didampingi kuasa hukum, karena apa? tidak diperbolehkan oleh penyidik. Saya ingin tanya, apakah UU kita sudah berubah?.

Pak Tito yang saya Hormati! Anda harus ingat, Sekretariat adalah tempat kader-kader bangsa ini berdialektika, mentarnsformasikan gagasan dan pendapat demi ummat dan Bagsa ini. Di sekretariat inilah telah lahir politisi, akademisi, ulama, pebisnis, kuasa Hukum dan masih banyak yg lain. Tetapi anak buahmu tidak sama sekai punya itikad baik, mereka datang seperti air bah lalu membawa salah satu simbol organisasi kami.

Pak Tito! Organisisasi ini punya sejarah yang panjang, berjuang mempertahankan NKRI ini dari agresi meliter belanda ke II, bersama rakyat menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Lalu puncaknya adalah menggayang PKI yang dulunya menjadikan HMI sebagai musuh bebuyutan, dan hampir keseluruahan aganda itu dibahas di sekretariat PB HMI. Mungkin saya perlu kasi tau bapak. Di Milad HMI yang Ke III Jenderal Besar Sudirman mengatakan, HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam, tapi Harapan Masyarakat Indonesia.

Pak KAPOLRI yang saya hormati!
Sebagai kader HMI, saya sangat menyesalkan kejadian semalam yang dilakukan anak buahmu. Saat di tanykkan surat penangkapan meraka tak menujukan, saat hendak didampingi kuasa hukum tidak dibolehkan. Peristiwa ini hampir sama dengan penculikan para Jenderal oleh PKI lalu di bawa ke lubang buaya.

Jangan Pak Tito, jabatan yg saat ini di pundakmu adalah amanah berat yg mesti dijalakan dgn sungguh-sungguh. Jangan karena nila sedikit rusak susu sebelangga.

Pak Tito, saya sempat mendengarkan anda menyampaikan materi saat di undang Din Samsudin di Kantornya. Secara peribadi, saya menganggap anda adalah 1 dari sekian Polisi yg memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Saat itu saya punya ekspektasi agar anda bisa merubah institusi ini keluar dari stigma negatif masyarakat, ternyata saya sadar saya telah keliru.

Bapak Presiden dan KapolRI, Saya punya harapan besar agar demokrasi ini dijaga dengan kesungguhan hati, sebab ia hadir karena diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Saat mulut pengkritik dibungkam, saat suara-sura ditukar dengan penangkapan. Pada saat yang bersaman kita sedang dibawa ke Rezim orba yang sama2 kita benci.

Abdul Syukur Oumo (Kader HMI)⁠⁠⁠⁠

Ketua HMI: Presiden Jokowi memecah belah umat Islam

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke kantor organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, tiga hari setelah demonstrasi 4 November, dinilai Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, HMI, sebagai tindakan yang menunjukkan bahwa presiden memecah belah umat Islam.

Berbicara beberapa jam seusai Presiden Jokowi menyambangi kantor Muhammadiyah pada Selasa (08/11), Ketua PB HMI, Mulyadi Tamsir, menyatakan tindakan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah terkait kasus penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

“Justru akan menimbulkan masalah baru karena Presiden Jokowi dengan cara seperti itu menunjukkan bahwa Presiden Jokowi akan memecah belah umat Islam,” kata Mulyadi kepada BBC Indonesia.

Dia merujuk ketidakhadiran Presiden Jokowi saat para demonstran berupaya menemuinya.

“Ada apa? Ketika orang datang ke Istana, tapi mereka tidak ditemui. Tapi justru beliau datang ke organisasi masyarakat keislaman. Kalau Presiden Jokowi mau mendengarkan, maka semuanya harus didengarkan, semua harus didatangi,” kata Mulyadi, merujuk aksi rekan-rekannya pada 4 November yang menuntut menemui Presiden Jokowi di Istana.

HMI adalah organisasi yang lima kadernya dijadikan tersangka oleh kepolisian lantaran dituduh menyerang anggota polisi dalam unjuk rasa 4 November malam.

Menurut Mulyadi, para kader HMI tersebut ‘diperlakukan tidak baik’. Padahal, lanjutnya, mereka hanya menyuarakan ‘ketidakadilan hukum’.

“Kami tidak diberikan alasan dan penjelasan penangkapan. Mereka menangkap seolah-olah kita ini penjahat negara,” ujar Mulyadi.

Merangkul dan membelah

Kunjungan Presiden Jokowi ke NU dan Muhammadiyah pada satu sisi dan membiarkan proses hukum terhadap lima anggota HMI pada sisi lain merupakan suatu strategi tersendiri, kata Najib Azca, wakil dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

“Jokowi, saya kira, menjalankan strategi merangkul dan membelah antara gerakan Islam kultural atau sosio-kultural yang mendukung demonstrasi secara damai dengan gerakan-gerakan yang memiliki agenda-agenda politik.

“Sederhananya, dia memisah mereka yang menjalankan aksi 4 November sampai jam 18.00 dan mereka yang beraksi jam 18.00 ke atas,” kata Najib, mengacu pada kericuhan unjuk rasa pada 4 November malam.

Wujud strategi tersebut, imbuh Najib, adalah momen ketika Presiden Jokowi mengapresiasi NU dan Muhammadiyah.

Pada Senin (07/11), Jokowi mengucapkan terima kasih kepada NU yang mendinginkan suasana sehingga demonstrasi berjalan tertib sampai maghrib. Kemudian, pada Selasa (08/11), ucapan senada diutarakan Jokowi kepada Muhammadiyah.

Khusus dalam kunjungan ke kantor Muhammadiyah, Jokowi secara eksplisit menegaskan tak akan melindungi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, karena sudah masuk dalam proses hukum.

“Jokowi mencoba merangkul, seperti ‘NU dan Muhammadiyah adalah partner saya’. Dia perlu secara simbolik menyampaikan statement seperti itu di depan NU dan Muhammadiyah. Begitu juga sebaliknya, kalau ternyata (Ahok) diputuskan tidak bersalah, saya kira konsekuensinya Presiden Jokowi menghendaki kelompok-kelompok yang berdemonstrasi ini bisa menerima karena proses hukum sudah ditegakkan,” kata Najib.

Adapun terhadap kelompok-kelompok yang memiliki agenda-agenda politik, yang mengakibatkan terjadinya kericuhan pada 4 November, Najib mengatakan Presiden Jokowi menyerahkannya ke kepolisian untuk menindak.

Akan tetapi, mengenai anggapan HMI digerakkan kepentingan politik, Ketua PB HMI, Mulyadi Tamsir, membantah.

“Tidak benar. Kita organisasi independen, idealis. Jadi apa yang kita suarakan murni karena ketidakadilan hukum,” tegas Mulyadi.

Dalam kasus dugaan penistaan agama yang dihadapi Ahok, sudah ada beberapa orang yang diperkarakan ke kepolisian. Selain Ahok sendiri, ada calon wakil bupati Bekasi Ahmad Dhani, Ulin Yusron, dan Buni Yani, sosok yang mengunggah video pidato Ahok tentang Surat Al Maidah 51 ke media sosial.

(Sumber: BBC.COM)

 

13 Nopember 2016

411: Fahri Hamzah
411: Fahri Hamzah

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai safari yang dilakukan Presiden Joko Widodo tak menyelesaikan masalah. Diketahui, Presiden Jokowi melakukan safari menemui ulama serta personel TNI/Polri pascademo 4.11.

“Itu muter-muter enggak menyelesaikan masalah. Ini negara hukum, itu saja yang ingin orang dengar,” kata Fahri di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (13/11/2016).

Fahri menegaskan demonstrasi 411 mustahil ditunggangi dan dibiayai kelompok tertentu. Apalagi, adanya anggapan aksi tersebut menggunakan uang korupsi.

“Sampai lebaran kuda kata Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), sampai lebaran kuda mencari orang yang membiayai dalam pengertian ada orang besar, difitnah pakai uang korupsi, enggak lah,” kata Fahri.

Fahri meminta Presiden Joko Widodo menemui pengunjuk rasa. Apalagi, peserta aksi terdiri dari ulama dan habaib terkait dugaan penistaan agama.

“Temui, ngomong baik-baik. Kok takut ngomong sama ulama dan habaib. Hadapi rakyat, bicara dengan rakyat. Ini mengutip langsung Pak Jokowi yang bilang sampai-sampai saya rindu didemo,” kata Fahri.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah memberikan arahan kepada prajurit TNI di Mabes AD pada Senin (7/11/2016).

Pada hari Selasa (8/11/2016), Presiden Jokowi memberikan arahan kepada jajaran Polri di Gedung PTIK.

Pada hari Kamis (10/11/2016), Presiden Jokowi memberikan pengarahan kepada prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Markas Kopassus Cijantung, Jakarta Timur dan hari ini, Presiden telah memberikan arahan kepada personel Brimob.

(Sumber: TRIBUNNEWS.COM)

 

14 Nopember 2016

Jakarta – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan bahwa terlapor kasus dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan menghadirkan saksi ahli seorang pakar tafsir dari Mesir pada gelar perkara di Mabes Polri hari ini, Selasa (15/11). Apakah saksi ahli tersebut benar akan dihadirkan?

“Yang saksi ahli dari Mesir itu tidak jadi,” kata tim pengacara pasangan Ahok-Djarot, Sirra Prayuna, kepada detikcom, Senin (14/11/2016) malam.

Sirra mengatakan bahwa ide menghadirkan saksi ahli asal Mesir bukan merupakan ide dari tim sukses Ahok. Ide tersebut datang dari simpatisan Ahok yang prihatin dengan kasus yang menimpa mantan Bupati Belitung Timur tersebut. Sirra sendiri mengaku belum pernah berkomunikasi apalagi bertemu dengan saksi ahli asal Mesir itu.

“Jadi sebenarnya ada beberapa teman yang simpati lalu mengusulkan ahli agama. Salah satunya yang dari Mesir itu. Nah teman-teman ini yang mencoba berkomunikasi langsung,” ujar Sirra.

“Saya sendiri tidak pernah berkomunikasi langsung dan bertemu membicarakan bagaimana pandangan ahli tafsir tersebut. Dan terakhir saya dapat info batal (dihadirkan),” imbuhnya.

Kepastian batalnya saksi ahli asal Mesir yang akan dihadirkan oleh Ahok diperkuat oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Agus Rianto. Agus mengatakan saksi ahli itu batal hadir karena ada anggota keluarganya yang sakit.

“Ada rencana seperti itu (menghadirkan saksi ahli asal Mesir), tapi batal. Informasinya karena keluarga yang bersangkutan sakit,” kata Agus lewat pesan singkat kepada detikcom.

(Sumber: Detik.com)

Syekh Amr Wardani
Sosok ulama Mesir yang pro diktator militer As Sisi yaitu Syekh Amr Wardani (dalam penulisan Mesir ditulis Shekh Amrou El Wardanei) mendadak menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Bukan karena dia akan melantik hafidz-hafidz baru di Jakarta, namun menurut beberapa informasi dia akan diundang pemerintah menjadi saksi ahli dalam gelar perkara kasusnya Ahok.

Jika memang kabar ini benar, kita akan bertanya kepada siapa shekh ini akan berpihak? Tentunya publik yang belum mengerti konstelasi sospol di Timur Tengah akan mengira shekh Amrou (jika benar benar datang untuk menjadi saksi ahli) maka dia akan melawan Ahok. Mengapa? Simpel saja, dia itu seorang ulama dan datang dari Arab, dua ikon yang selama ini tidak disukai oleh Ahok.

Menurut saya dugaan itu jauh panggang dari apinya, Amrou El Wardanei memang sosok yang katagorikan sebagai ulama. Dia adalah seorang Al Asy’ariyyah, penganut Madzhab Syafi’ie dan seorang Tasawuf. Menjadi dosen dalam fiqh Syafi’ie, bahkan saya ingat dia pernah menjadi dosen fiqh Syafi’ie saat saya duduk di tingkat 4 sekitar awal 2000-an.
Dalam perjalanan karirnya di Al Azhar, dia kini menjabat sebagai salahsatu anggota Daarul Iftaa (Rumah Fatwa) Mesir. Perjalanan karirnya sangat dibantu dengan kedekatan dan kecintaan dia kepada mantan mufti yang kontroversial Shekh Ali Jum’ah. Ali Jum’ah secara terang terangan menyerukan penumpahan darah terhadap demonstran damai yang menolak kudeta militer tahun 2013 yang lalu.
Sebagai murid terdekat dari Ali Jum’ah, Amrou Wardanei berperan sebagai salah satu pilar legimitasi keagamaan terhadap junta militer As Sisi. Dari berbagai rentetan pembunuhan dan penangkapan politik, Ali Wardanei selalu mendukung dan memasang badan membela diktator As Sisi.
Ada dua kejadian menarik yang ditunjukkan Ali Wardanie sebagai cerminan pandangan dan sikap dia :
A. Dalam sebuah halaqah fiqh Syafiie, Ali Wardanei pernah mengusir secara kasar kepada salah satu murid yang menyatakan bahwa Islam adalah ajaran yang universal dan holistik mencakup budaya,ekonomi,politik dan sosial. Ali Wardanei didepan umum mencaci mirid itu dengan kata kata kasat “safsathah” yang artinya gerombolan makar/bar-bar.
B. Ali Wardanie memuji pidato As Sisi pada sebuah perayaan maulid Nabi pada bulan Januari 2015. Dalam forum itu As Sisi menuntut ajaran Islam mesti direaktualisasi karena banyak yang usang. Sebuah wacana hegemonik kaum liberal yang disuarakan secara seragam dan universal disetiap negara muslim yang ada kaum liberalnya.
Ali Wardanei sesungguhnya alumni S 3 Darul Ulum, Univ. Cairo dan bukan Al Azhar, hal ini mirip dengan gurunya Ali Jum’ah yang alumni Sorboune Perancis. Hal politis yang bisa memasukkan mereka ke lembaga Al Azhar. Dia sering merendahkan ulama ulama besar Al Azhar seperti ulama besar Al Azhar dalam bidang hadist shekh Usamah Abd Aziem, padahal dia sama sama bermadzhab Syafi’ie dengan shekh Usamah.
Dalam banyak forum Ali Wardanei sangat reaktif terhadap wacana negara civil society/negara madani, kembalinya khilafah dan siyasah syariyyah/ politik Islam. Negara madani adalah lawan dari diktatorisme dan sosialisme, adapun siyasah syariyyah adalah disiplin ilmu politik dalam Islam dalam segala kondisi: perang, damai, mayoritas, minoritas, makmur, krisis dsb. Dia meyakini konsep non partai dalam kekuasaan.
Dari sini kita bisa menilai bahwa pemerintah Jokowi masih mau mempertahankan Ahok dengan melibatkan “faktor asing” untuk memenangkan misi mereka. Hal ini bagai menjilat air ludah sendiri karena selama ini Jokowi selalu menggaungkan ke Indonesiaan.
Jokowi juga dinilai meremehkan kedudukan MUI karena tidak mau mendengar suara dari mereka, sekali lagi jika memang shekh mesir itu didatangkan untuk menjadi saksi ahli.
Secara geopolitik, diktator militer Mesir memiliki kebiasaan buruk dalam menginterevensi masalah negara lain :
1. Di Libya, As Sisi menciptakan pemerintah boneka Hefter untuk merebut kekuasaan revolusi rakyat. As Sisi bahkan mengirim pesawat tempur yang dibiayai Dubai untuk mendukung misi itu.
2. As Sisi mendukung kelompok Houtsi yang Syiah di Yaman dalam merebut kekuasaan dari pemerintah yang sah.
3. As Sisi menjadikan Mesir sebagaia basis operasi dalam mengkudeta presiden Erdogan yang gagal.
4. As Sisi berkoalisi dengan pemerintah Iraq yang syiah dalam mendukung politik Iran di Timur Tengah.
Shekh Ali Wardanei adalah pendukung utama As sisi yang akan datang ke Indonesia untuk menjadi saksi ahli Ahok (jika jadi..) adalah pesan jelas bahwa Jokowi sudah mulai menggalang dukungan internesional (geopolitik) dalam memenangkan kasus penistaan Islam oleh Ahok.
Mutawakkil Abu Ramadhan
Alumni Universitas Al-Azhar Cairo Mesir
(Sumber: Teropongteras.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here