‘M10’ untuk Omran Daqneesh

1868
0
BERBAGI

Hari Rabu – Tanggal 17 Agustus 2016, pada saat Negara Indonesia sedang memperingati hari kemerdekaannya.  Seorang anak sedang menjadi sorotan dunia internasinal.  Omran Daqneesh, berumur 5 tahun adalah salah satu korban yang selamat dari serangan udara Rusia bersama rezim Presiden Bashar al Assad di distrik Qaterji – Aleppo, Suria.

Omran Daqneesh bersama saudara perempuannya. (17 Agustus 2016)

Ini adalah gambar Omran Daqneesh yang diselamatkan dari serangan udara Rusia, dan telah dilihat oleh jutaan orang. Berikut kisah dari Mahmoud Raslan, seorang fotografer dan juga seorang wartawan Al Jazeera Mubashir yang turut mengambil gambar.

Aku tinggal hanya 300 meter dari serangan itu.  Sesaat setelah mengikuti sholat jam 7:00 malam, kami mendengar ledakan.  Saya bergegas ke sana dengan tiga aktivis media lainnya.

Hal pertama yang saya lihat adalah tiga mayat di tanah yang dibawa ke ambulan.  Mereka adalah tetangga dari keluarga Omran.  Bangunan tersebut hancur total – semua enam lantai sekarang hanyalah puing-puing.

Lalu aku mencari untuk melihat gedung lain yang setengah hancur – rumah Omran.  Para aktivis penyelamat White Helmets menaiki tangga sebuah gedung di dekatnya karena tangga di rumah Omran hancur.  Saya bergabung ke dalam untuk membantu.

Orang pertama yang berhasil selamat adalah Omran dan saya mengambil kamera dan mulai merekam. Saya kemudian mengetahui usianya hanya empat tahun.

Saat itu terlalu gelap untuk merekam yang baik tapi aku lanjutkan dan mengikutinya. White Helmets membawa anak itu ke ambulan dan meletakkannya di kursi.  Aku terus merekam. Kemudian saya menyadari betapa traumanya anak itu dan saya mengubah video menjadi kamera untuk mengambil gambar.

Air mata mulai turun saat aku mengambil foto. Bukan pertama kalinya aku menangis. Aku menangis berkali-kali saat merekam anak-anak yang trauma.  Aku selalu menangis.  Kami, fotografer perang, selalu menangis.  Semalam semua orang menangis.

Omran mempengaruhi saya karena dia diam. Dia tidak menangis. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia terkejut.

Saya memikirkan bayi perempuan saya yang berumur 7 hari. Saya berpikir, bisa saja terjadi pada anak saya. Bisa menimpa setiap anak di Aleppo atau Suriah.

Kemudian tim White Helmets terus menyelamatkan anggota keluarga.  Kakak perempuan yang tertua Omar, berumur 11 tahun, menatapku dan berkata jangan merekam. Aku matikan kamera dan mengatakan “ya Sayang, saya tidak akan rekam”.

Terima kasih Tuhan semua keluarga Omran aman. Ibunya memiliki beberapa cedera berat di kakinya. Ayahnya menderita cedera kepala ringan. Kakak perempuannya yang berusia 7 tahun harus dioperasi siang ini dan dia baik-baik saja.

Hari ini ketika aku bangun untuk melihat seluruh dunia menggunakan foto dan berbicara tentangnya. Saya berpikir, saya berharap semua foto anak-anak dan serangan di Suriah akan terus ‘mewabah’ sehingga dunia tahu keadaan yang sebenarnya di sini.

Jika orang tahu kejadian yang sebenarnya mungkin perang akan berhenti, pemboman akan berhenti.

Mungkin Omran dan putri saya Amal dapat hidup normal seperti anak-anak lainnya di dunia.

Satu jam setelah Omran diselamatkan dari reruntuhan, bangunannya rata dengan tanah.  Namun pihak Rusia menyangkal bahwa peswat tempurnya yang telah mengebom rumah Omran Daqneesh.

Kode ‘M10’

Ammar Tabyeh, ialah orang yang mengangkat Omran Daqneesh dari reruntuhan bangunan.  Lalu membawa Omran ke mobil ambulan.  Mereka membawanya ke rumah sakit yang dikenal sebagai “M10”.  Rumah sakit diberi kode dengan alasan keamanan.  Para dokter yang memberikan kode tersebut terhadap rumah sakit.  Transportasi ambulan juga diatur sedemikian rupa agar pasien selamat sampai ke rumah sakit.  “M10” pun telah beberapa kali terkena serangan udara pemerintah.  Banyak rumah sakit yang tidak sepenuhnya berfungsi.  Perhitungan korban juga telah dihentikan oleh PBB terkait kekacauan data dalam verifikasi.

Omran sebelum serangan udara (kiri), dan setelah (kanan).
Omran sebelum serangan udara (kiri), dan setelah (kanan).

Abu al-Ezz mengatakan: “Karena kita khawatir pasukan keamanan akan menyusup ke dalam jaringan medis dan menargetkan mobil ambulan ketika mereka memindahkan pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.”.  Ditambah lagi bantuan seragam yang diberikan oleh PBB untuk para dokter di Siria terdapat perangkat alat pelacak.  Tidak heran, rumah sakit selama ini dijadikan target serangan udara.

Syria Solidarity Campaign mengatakan Ali, kakak Omran yang berumur 10 tahun “telah meninggal hari ini dikarenakan luka yang diderita karena pengeboman rumahnya oleh Rusia/Assad”.  Ali Daqneesh mengalami pendarahan dalam dan kerusakan organ tubuh.  Juga tweet dari Kareem Shaheen, seorang wartawan Midle East, mengatakan: “Telah mendapat konfirmasi dari dokter Omar Daqneesh, bahwa saudaranya yang lebih tua telah meninggal karena luka-luka yang diderita akibat serangan yang juga telah melukai Omran.”

Antara Pejuang dan ‘Teroris’

Media Syi’ah pendukung Assad selalu memberitakan bahwa pejuang Siria adalah ‘teroris’.   Lalu Mahmoud Raslan pun dikatakan dekat dengan ‘teroris’.  The White Helmet yang menjadi nominasi untuk Nobel Peace Prize juga ikutan difitnah, bahwa mereka adalah aktivis yang membantu teroris.  Foto Omran yang belakangan ini menjadi viral juga dianggap propaganda Amerika Serikat.  Manusia tanpa rasa kemanusiaan.

Daraya - Siria
Daraya – Siria (16-8-2016)

Namun rakyat Siria sekali lagi ingin menegaskan sebuah kebenaran.  Sebuah gambar anak-anak di Daraya cukup menjadi lambang yang juga menampar PBB.  Bahwa ‘teroris’ yang selama ini diberitakan adalah ‘pejuang’ bagi mereka.  Foto dengan tulisan: “Pejuang Siria dan masyarakat menembus pengepungan atas Aleppo, dan mengirimkan makanan dalam enam hari.  PBB tidak melakukan apa-apa terhadap pengepungan Daraya selama dua bulan!”.

Lakukan Sesuatu

Omran bukanlah satu-satunya anak yang menjadi korban serangan.  Kejadian ini bukanlah kejadian yang jarang terjadi. Nada, seorang anak perempuan Siria.  Terlihat bahagia dan bernyanyi sampai saat suara roket mencuri momen dan keluguannya.

Masih ingat Aylan Kurdi? Kita merasa sedih.  Kita klik dan bagikan.  Dan kita menjadi generasi ‘Keyboard Activist’.  Hampir setahun dari peringatan ‘Aylan Kurdi’.  Tapi apa yang telah berubah dari tahun terakhir ini?  Apa yang telah kita lakukan di atas semua klik dan bagikan pada media sosial?

Jangan hanya di klik, tapi jadikan klikan itu diperhitungkan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here