Do’a Anak Negeri yang Dibenci Tirani

662
0
BERBAGI

Anggota Fraksi Gerindra M Syafii didaulat menjadi ‘pembaca’ do’a dalam Rapat Paripurna DPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (16/8). Rapat paripurna tersebut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla, dan para menteri.  Berikut adalah sebagian do’a:


Do’a Anak Negeri

**
“Ya Rahman.. lihatlah kehidupan hukum kami, betapa hukum kami seperti mata pisau yang hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas sehingga mengusik rasa keadilan bagi bangsa ini..  Ya Rabbal ‘aalamin. Wahai Allah, memang semua penjara overcapacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan karena kejahatan seperti diorganisir, wahai Allah,”
*
“Kami tahu pesan dari sahabat Nabi Mu, bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu wahai Allah atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu,”
*
“Ya Rabbal ‘aalamin.. Lihatlah kehidupan ekonomi kami, Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami,”
*
“Ya Rabbal ‘aalamin. Kehidupan sosial budaya, seperti kami kehilangan jati diri bangsa ini, yang ramah, yang santun, yang saling percaya. Ya Rabbal ‘aalamin, kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika ada bangsa lain yang akan menyerang bangsa kami. Ya Rahman ya Rahim, tapi kami masih percaya kepada-Mu, bahwa ketika kami masih mau menadahkan tangan kepada-Mu, artinya Engkau adalah Tuhan kami, Engkau adalah Allah YME,”
*
“Jauhkan kami ya Allah dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, yang kekuasaannya bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,”
*
“Dimana-mana rakyat digusur tanpa tahu kemana mereka harus pergi. dimana-mana rakyat kehilangan pekerjaan, Allah di negeri yang kaya ini, rakyat ini outsourcing, tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan di Sumatera Utara, 5000 KK rakyat Indonesia sengsara dengan perlakuan aparat negara Ya Rabbal ‘aalamin.”
*
“Allah.., lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percayakan kendali negera dan pemerintahan kepada pemerintah. Allah.., kalau ada mereka yang ingin bertaubat, terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak brtaubat dengan kesalahan yang dia perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini Ya Rabbal ‘aalamin.”


“Saya udah dapat sekitar 300 SMS dan panggilan telepon. Ini panggilan yang ke-78 saya terima, semuanya merespons positif,” ujar Syafi’i saat dihubungi JITUNEWS.COM, di Jakarta, Selasa (16/8) malam.

Syafi’i menuturkan, dirinya tidak menggunakan teks pada saat membawakan doa tersebut. Meski sebelumnya pihak Kesekjenan DPR memintanya menggunakan teks, namun dia menolak dengan dalih dia tidak pernah membawa teks saat membawakan doa. Pasalnya kata Syafi’i, isi doa itu tergantung apa yang ia lihat dan ia dengar di sekelilingnya.

“Enggak pakai teks, Muncul aja gitu. Saya tadi sebelum naik baca doa sempat ditanyain lagi. ‘Ada teks atau enggak’, Saya bilang enggak ada. Yaudah lanjut aja,” beber Syafi’i.
Syafi’i pun mengaku di dalam doa yang dinilai oleh publik terkesan memojokkan Presiden Joko Widodo tersebut, tidak ada instruksi sedikit pun dari partainya, yakni Gerindra, yang notabene merupakan partai oposisi pemerintah.

“Enggak ada (intruksi). Sama sekali enggak ada. Kita kan refleksi kemerdekaan. Ini suasana kebatinan yang sebenarnya sedang dirasakan masyarakat kan,” ujar Syafi’i.

Syafi’i menambahkan, poin dalam doa yang ia bacakan tersebut menginginkan adanya perbaikan di negeri ini.

Dia mencontohkan saat ini banyak aparat negara seperti diciptakan untuk berhadapan dengan masyarakat padahal tugas mereka semestinya adalah sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

“Di sini kita ingin ada perbaikan, berubahlah gitu. Jangan seperti yang sekarang kita alami. Kayaknya aparat negara itu diciptakan berhadap-hadapan dengan rakyat. Padahal semestinya kan mereka jadi pengayom. Jadi pemerintah itu harus memberi manfaat. Jangan malah memanfaatkan rakyat. Gitu lho maksudnya,” kata Syafi’i.

Dalam hal ini, Syafi’i pun mengaku siap menerima resiko apabila ada pihak-pihak yang mem-bully dirinya di media sosial media terkait isi doa yang ia bacakan, karena menurutnya setiap tindakan ada resiko yang sudah menanti.

“Ya kan setiap tindakan ada resikonya. Yaudah kita kan ingin memperbaiki. Ya kan, doa itu juga ditutup dengan kalimat ‘kalau bertobat, ya bagus. Tapi kalau nggak tobat kan, kita ini udah sengsara, Mas,” tutup Syafi’i.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here