Beranda FORGET & FORGOTTEN Pengungsi, Migrasi, dan Masa Depan Dunia

Pengungsi, Migrasi, dan Masa Depan Dunia

705
0
BERBAGI

Oleh: Muhammad Sabeth Abilawa

Hari ini bertepatan 20 Juni, dunia merayakan Hari Pengungsi. Sebuah peringatan yang mungkin di Indonesia masih kalah tenar dengan hari-hari yang lain seperti hari buruh, hari pahlawan, hari pendidikan. Wajar , karena negara kita bukanlah negara destinasi utama para pencari suaka dan pengungsi sebagaimana Eropa saat ini. Bukan pula negara penyumbang jumlah pengungsi.

Namun tak banyak yang tahu bahwa jumlah pengungsi dan pencari suaka di Indonesia jumlahnya signifikan. Merujuk data UNHCR Indonesia, saat ini ada sekitar 13.800 orang lebih dari negara lain yang datang ke Indonesia untuk mencari suaka dan mengungsi dari negaranya. Jumlah tersebut didominasi oleh etnik dari Afghanistan dan Rohingya Myanmar di urutan kedua.

Jumlah tersebut tentu sangat kecil jika dibandingkan dengan 65,3 juta total pengungsi dunia berdasar data terakhir UNHCR di bulan Juni 2016. Angka ini setara dengan jumlah penduduk Perancis. Tentu kita patut bersyukur tinggal di negara yang tidak diliputi dengan perang dan konflik sebagaimana Suriah, Yaman, Afghanistan, danSomalia. Negara-negara yang terkoyak dan ditinggalkan oleh warganya untuk mencari selamat di negara lain meski harus menempuh risiko besar dalam perjalanan.

Suriah misalnya, sejak perang sipil berkecamuk  lima tahun lalu, 2,6 juta warganya menyeberang ke Turki untuk berlindung dari marabahaya. Bahkan negara sekecil Lebanon yang hanya dihuni 4,5 juta penduduk terpaksa menampung sekitar 1 juta pengungsi Suriah. Kita bisa bayangkan seperempat penduduk Lebanon saat ini adalah pengungsi dari negara lain.

Faktanya, pengungsi dan migrasi itu sendiri setua umur peradaban manusia. Penyebaran etnis dan diaspora manusia telah terjadi sejak berabad-abad lamanya. Ada yang dikarenakan perang, konflik, bencana alam, perubahan iklim, maupun mobilitas untuk sukarela mencari kehidupan lebih baik. Dan hari hari ini sejarah peradaban manusia mencatat gelombang migrasi terbesar terjadi kembali semenjak Perang dunia ke 2.

Masalahnya bukan hanya terletak pada perpindahan manusia itu sendiri. Meskipun dalam konteks pengungsi yang menyeberangi lautan dengan menggunakan perahu sebagaimana yang terjadi di laut Mediterania (Pengungsi Suriah dan Libya) ataupun Samudera hindia (pengungsi Rohingya dan Srilangka) memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Masalah utama adalah hilangnya generasi masa depan. Lagi- lagi data berbicara bahwa separuh lebih total pengungsi adalah anak-anak dan remaja usia sekolah. “Lost Generation” akan perlahan-lahan terjadi seiring dengan tiadanya akses mereka terhadap pelayanan kebutuhan dasar seperti pendidikan.

Sebagian besar pengungsi saat ini, sekitar 86%, ditampung di Negara-negara berkembang (hosting countries) alih-alih diurus oleh Negara-negara maju. Kita tahu sendiri bagaimana kemampuan sebuah negara berkembang yang cekak fiskalnya. Jangankan untuk pengungsi dari negara lain, untuk kebutuhan dasar rakyat sendiri saja kadang belum terpenuhi.  Inilah yang seringkali membuat dilema penanganan pengungsi di negara berkembang.

Tak perlu jauh-jauh, ambil contoh Indonesia, saat manusia manusia perahu dari Myanmar ditarik oleh kapal kapal nelayan Aceh untuk merapat di pantai barat Sumatera dengan alasan kemanusiaan dan menyelamatkan nyawa yang terancam kelaparan. Pemerintah pusat pun bingung karena tak ada alokasi anggaran di pos APBN untuk pengungsi. Pemanfaatan anggaran di luar peruntukan tentulah menjadi momok yang menakutkan bagi penyelanggara negara dibandingkan panggilan nurani kemanusiaan itu sendiri. Untunglah beberapa pemerintah daerah di Aceh seperti Kota Langsa, cukup cerdas menyiasati hal ini dengan cara menggandeng peran serta masyarakat melalui untuk bersama sama dalam menangani masalah manusia perahu ini. Juga adanya nilai-nilai luhur dalam adat Aceh yang sudah lama mereka anut seperti Peumulia Jamee (memuliakan tamu) turut serta menyelamatkan wajah kemanusiaan kita.

Bayangkan, anak-anak kecil yang harusnya riang gembira di sekolah itu tercerabut haknya untuk mengenyam pendidikan dasar dan kebutuhan nutrisi. Meskipun untuk sementara waktu mereka aman dari persekusi dan ancaman kematian akibat ganasnya perang dan konflik, namun tetap saja mereka tak bisa memasuki sekolah sekolah formal di hosting countries.

Dalam perhelatan tahunan konsultasi UNHCR dan NGO dunia yang berlangsung di Jenewa, Swiss 15-17 Juni kemarin, di mana Dompet Dhuafa diundang sebagai salah satu partner UNHCR, hal-hal di atas dibahas secara komprehensif dan berusaha untuk dicarikan solusi bersama atas problem pengungsi dunia utamanya adalah kelompok Youth Refugees . Semua menyadari bahwa masa depan dunia bergantung terhadap generasi muda saat ini. Jangan sampai perang dan konflik juga turut serta diwariskan kepada generasi mudanya dan jangan sampai mereka meraka yang menjadi korban dari konflik ini akan terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang menjerat masa depan mereka. Filippo Grandi, petinggi UNHCR di Geneva mengutip kata kata Baan Ki Moon “No one should be left behind”, menjadi pengungsi bukanlah pilihan kita semua.

Geneva 19 Juni 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here